Pukul empat kurang sedikit. Tas sekolah baru saja jatuh di dekat sofa, sepatu belum benar-benar masuk rak, dan anak sudah membuka laptop.
“Belum ganti baju?”
“Sebentar, Ma. Aku mau nanya AI dulu.”
“Nanya apa?”
“Tugas IPA. Besok dikumpul.”
Bayangkan adegan itu sebagai skenario ilustratif, bukan kisah keluarga tertentu. Beberapa tahun lalu, kalimat terakhir mungkin berbunyi “aku mau cari di Google”. Sekarang, bagi banyak anak, langkah pertama untuk mencari penjelasan, ide, ringkasan, atau bahkan jawaban bisa berupa membuka chatbot AI.
Reaksi orang tua mudah bergerak ke dua ujung.
Ujung pertama: panik.
“Jangan pakai AI buat tugas!”
Ujung kedua: pasrah.
“Ya sudah, yang penting tugas selesai.”
Keduanya terasa cepat. Keduanya juga bisa kehilangan kesempatan yang justru paling penting: mengetahui apa sebenarnya yang sedang dilakukan anak.
Kalau anak pulang sekolah lalu langsung membuka AI, pertanyaan pertama bukan “aplikasinya harus dilarang atau tidak?” Pertanyaan yang lebih berguna adalah, “Kamu sedang mencoba melakukan apa dengan AI?”
Jawabannya bisa mengubah semuanya.
“DUDUK SEBENTAR” BUKAN BERARTI MENGAWASI SETIAP KLIK
Orang tua tidak perlu menarik kursi lalu berubah menjadi petugas pemeriksa layar.
Cukup hadir sebentar.
“Boleh Mama lihat kamu biasanya pakainya gimana?”
Anak mungkin menjawab, “Aku cuma minta dijelasin fotosintesis.”
Atau, “Aku masukin soal terus minta jawabannya.”
Atau, “Aku minta AI bikin ide eksperimen.”
Tiga aktivitas itu sama-sama terlihat seperti “pakai AI untuk belajar”, tetapi proses belajarnya berbeda.
Pada yang pertama, AI dipakai sebagai penjelas.
Pada yang kedua, AI berpotensi mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dilakukan anak.
Pada yang ketiga, AI dipakai sebagai alat brainstorming.
Di sinilah orang tua mendapat informasi yang tidak akan muncul kalau percakapan berhenti pada “boleh” atau “tidak boleh”.
UNICEF dalam ringkasan 2026 tentang penggunaan AI oleh anak dan orang tua di 10 negara menemukan bahwa penggunaan AI di kalangan anak sudah signifikan, terutama untuk pekerjaan sekolah dan mencari informasi. Temuan itu tidak boleh dianggap sebagai angka khusus Indonesia, tetapi cukup untuk menunjukkan arah besar: AI memang sudah menjadi bagian dari kebiasaan belajar sebagian anak, sementara pemahaman orang dewasa tidak selalu bergerak secepat itu.
Jadi, duduk di samping anak bukan tanda curiga.
Itu cara orang tua mengejar konteks.
MULAI DARI TUJUAN, BUKAN DARI NAMA TOOL
Bayangkan anak berkata:
“Aku mau tahu kenapa pelangi bisa muncul.”
Orang tua bisa menjawab, “Oke. Coba kamu tanya. Tapi nanti setelah jawabannya keluar, kamu jelasin lagi ke Mama pakai kata-katamu sendiri.”
Kalimat sederhana itu mengubah pola penggunaan AI.
Anak tidak hanya menerima output. Ia diminta memprosesnya.
Kalau penjelasan AI terlalu sulit, orang tua bisa bertanya, “Bagian mana yang kamu enggak paham?”
Kalau anak berkata, “Semua,” berarti AI belum membantu belajar. Outputnya mungkin terlihat pintar, tetapi tidak menjadi pengetahuan bagi anak.
Kalau anak mampu menjelaskan kembali, orang tua bisa lanjut:
“Dari mana kita tahu penjelasannya benar?”
Sekarang latihan bergeser dari pemahaman ke verifikasi.
Inilah salah satu alasan literasi AI lebih penting daripada sekadar kemampuan membuat prompt. UNESCO dalam kerangka kompetensi AI untuk siswa menempatkan human-centred mindset, etika, pemahaman teknik dan aplikasi AI, serta kemampuan menilai dan menggunakan AI secara bertanggung jawab sebagai bagian dari kompetensi yang perlu dibangun. Anak tidak cukup hanya bisa mendapatkan jawaban. Ia perlu belajar menilai jawaban.
ORANG TUA TIDAK HARUS MENGETAHUI MATERI IPA UNTUK MENDAMPINGI
Ini bagian yang sering membuat orang tua mundur.
“Kalau saya sendiri lupa fotosintesis, bagaimana saya bisa mengecek?”
Pendampingan tidak selalu berarti orang tua harus lebih pintar daripada anak dalam setiap topik.
Coba ubah perannya.
Anak bertanya kepada AI.
Orang tua mengamati proses.
“AI bilang tumbuhan menghasilkan oksigen. Itu fakta yang bisa kita cek. Sumber sekolahmu bilang apa?”
Anak membuka buku atau sumber belajar yang diberikan guru.
“Mirip.”
“Bagian mana yang beda?”
“Di AI lebih panjang.”
“Kalau harus dijelasin ke teman sekelas, kamu pakai yang mana?”
Sekarang orang tua tidak sedang mengajar IPA. Orang tua sedang mengajarkan cara belajar.
Kemampuan ini tahan lebih lama daripada pengetahuan tentang satu chatbot. Nama produk bisa berubah. Fitur bisa berubah. Kebiasaan untuk bertanya “apa tujuannya, apa yang kamu pahami, dan bagaimana kita memeriksa” tetap berguna.
ADA EMPAT HAL YANG LAYAK DILIHAT DALAM SEPULUH MENIT PERTAMA
Bukan daftar untuk menginterogasi anak. Anggap sebagai peta kecil untuk orang tua.
Pertama, apa yang dimasukkan anak.
Apakah hanya pertanyaan umum? Atau anak mengunggah foto tugas yang memuat nama lengkap, nama sekolah, nomor siswa, wajah teman, atau data lain yang tidak perlu dibagikan?
Kebiasaan paling sederhana adalah mengajarkan anak berhenti sebelum menekan kirim.
“Tool ini benar-benar butuh data itu enggak?”
Kalau tidak, jangan masukkan.
Kebijakan privasi dan penggunaan data berbeda antar layanan dan dapat berubah. Karena itu, keluarga sebaiknya memeriksa aturan produk yang benar-benar digunakan, bukan mengandalkan asumsi bahwa semua chatbot memperlakukan data dengan cara yang sama.
Kedua, apa yang diminta anak.
Ada perbedaan besar antara:
“Jelaskan pecahan dengan contoh pizza.”
dan:
“Kerjakan semua soal ini, kasih jawabannya saja.”
Keduanya mungkin menghasilkan output dalam hitungan detik. Hanya salah satunya yang jelas mengajak anak kembali ke proses belajar.
Ketiga, apa yang dilakukan setelah output muncul.
Apakah langsung disalin?
Dibaca?
Ditanya ulang?
Dibandingkan dengan buku?
Dijelaskan kembali?
Diubah menjadi latihan?
Cara anak memperlakukan output sering lebih penting daripada panjang promptnya.
Keempat, apakah anak tahu kapan harus memanggil manusia.
Kalau chatbot mengeluarkan informasi yang aneh, menakutkan, bersifat seksual, mengarah pada tindakan berbahaya, meminta data sensitif, atau membuat anak tidak nyaman, anak perlu tahu bahwa respons yang tepat bukan menyelesaikannya sendirian.
“Kalau ada yang bikin kamu bingung atau enggak nyaman, panggil Ayah atau Mama. Kamu enggak akan dimarahi karena cerita.”
Kalimat itu sebaiknya disampaikan sebelum ada masalah.
JANGAN MEMBUAT AI TERASA SEPERTI BARANG TERLARANG YANG HARUS DISEMBUNYIKAN
Setelah melihat anak membuka AI, orang tua mungkin tetap memutuskan bahwa penggunaan tertentu tidak boleh.
Itu sah.
Misalnya, sekolah melarang penggunaan AI untuk tugas tertentu. Atau anak menggunakan AI untuk melewati proses yang memang harus dikerjakan sendiri. Atau tool yang dipakai tidak sesuai dengan usia dan aturan layanannya.
Tetapi ada beda antara menetapkan batas dan membuat teknologi menjadi topik rahasia.
“Untuk tugas ini gurumu minta dikerjakan sendiri, jadi AI-nya ditutup dulu.”
Itu batas yang jelas.
Berbeda dengan:
“Pokoknya Mama enggak mau lihat kamu pakai AI lagi.”
Larangan yang sangat luas bisa membuat anak berhenti bercerita, padahal AI akan muncul lagi di tempat lain: sekolah, perangkat teman, fitur pencarian, aplikasi kreatif, atau layanan yang bahkan tidak terasa seperti chatbot.
Jika keluarga ingin anak meminta bantuan ketika menemukan sesuatu yang ganjil, ruang percakapannya perlu tetap terbuka.
UNICEF dalam Guidance on AI and Children edisi ketiga menekankan pentingnya AI literacy, keterampilan berpikir kritis, pemahaman keterbatasan AI, serta dukungan orang dewasa dan pendidik. Arah besarnya bukan membuat anak steril dari teknologi, melainkan membantu mereka menggunakannya secara aman, sadar, dan sesuai tahap perkembangan.
BEDAKAN RISIKO RENDAH DAN RISIKO TINGGI
Tidak semua penggunaan AI perlu mendapatkan intensitas pengawasan yang sama.
Anak meminta lima ide nama untuk robot dari kardus?
Risikonya rendah.
Anak meminta penjelasan tentang gunung berapi?
Masih relatif rendah, tetapi fakta penting tetap perlu dicek jika akan masuk tugas.
Anak meminta AI memutuskan apakah ia harus minum obat tertentu, merespons ancaman, mengatasi kekerasan, atau menyelesaikan masalah pribadi yang serius?
Di sini standar berubah. AI tidak boleh menjadi satu-satunya rujukan. Orang dewasa yang dipercaya dan, jika relevan, profesional yang tepat perlu masuk.
Keluarga bisa memakai tiga pertanyaan singkat:
“Kalau AI salah, apa akibatnya?”
“Apakah ini tentang data pribadi atau orang lain?”
“Apakah keputusan ini seharusnya melibatkan orang dewasa?”
Anak tidak perlu menghafal teori risiko. Ia perlu mengenali kapan konsekuensinya membesar.
JANGAN TERLALU CEPAT MENILAI DARI LAYAR YANG TERLIHAT
Ada satu jebakan lain. Orang tua melihat layar chatbot dan langsung menyimpulkan anak sedang mencari jalan pintas.
Padahal perilaku yang tampak sama bisa punya tujuan berbeda.
Dua anak sama-sama mengetik soal matematika ke AI.
Anak pertama meminta jawaban akhir lalu menyalinnya.
Anak kedua sudah mengerjakan soal, mendapatkan hasil berbeda dari kunci latihan, lalu meminta AI menunjukkan langkah yang mungkin keliru.
Dari jauh, keduanya terlihat “memakai AI untuk matematika”.
Karena itu percakapan lebih akurat daripada tebakan.
“Coba ceritain, kamu sudah sampai bagian mana sebelum buka AI?”
Pertanyaan ini juga membantu anak menyadari prosesnya sendiri. Ia perlu mengingat apa yang sudah dicoba, titik mana yang membuatnya buntu, dan bantuan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Jika jawabannya, “Belum nyoba, langsung tanya,” orang tua tidak harus ceramah panjang.
“Coba kerjakan lima menit dulu. Nanti kalau mentok, kita lihat AI bisa bantu menjelaskan bagian yang bikin bingung.”
Batasnya menjadi konkret. AI tidak diposisikan sebagai musuh, tetapi juga tidak otomatis menjadi langkah pertama.
Kebiasaan “usaha dulu, bantuan kemudian” penting karena tujuan belajar bukan sekadar menghasilkan halaman yang terlihat selesai. Anak perlu mengalami sedikit kebingungan, mencoba strategi, salah, dan memperbaiki. AI bisa membantu proses itu kalau ditempatkan pada waktu yang tepat. Ia juga bisa memotong proses itu kalau setiap hambatan langsung dialihkan ke mesin.
PANIK SERING DATANG KARENA ORANG TUA TIDAK TAHU APA YANG TERJADI DI LAYAR
Sore berikutnya, bayangkan anak kembali membuka chatbot.
Kali ini orang tua tidak langsung berkata, “Tutup.”
Ia bertanya, “Hari ini AI-nya dipakai buat apa?”
“Bikin kuis buat latihan.”
“Boleh lihat?”
Anak menunjukkan sepuluh pertanyaan. Nomor tiga terasa aneh.
“Ini jawabannya bener?”
“Enggak tahu.”
“Nah, ini menarik. Kita cari.”
Dua menit kemudian, mereka menemukan bahwa jawaban AI terlalu menyederhanakan materi.
Anak tertawa kecil.
“Berarti dia bisa salah juga.”
Itu bukan kegagalan teknologi.
Itu momen belajar.
Yang berubah bukan hanya pemahaman anak tentang AI. Orang tua juga mendapat sesuatu: bukti bahwa mendampingi tidak harus berarti mengetahui segalanya.
Kadang peran orang tua cukup menjadi orang yang membuat anak berhenti lima detik lebih lama sebelum percaya, menyalin, mengunggah, atau mengambil keputusan.
Jadi ketika anak pulang sekolah lalu langsung membuka AI, tidak perlu otomatis panik.
Dan tidak perlu juga pura-pura santai kalau orang tua belum tahu apa yang sedang dilakukan.
Tarik kursi sebentar.
Bukan untuk mengambil alih laptop.
Untuk masuk ke percakapan.
Pertanyaan yang bisa dipakai hari ini sederhana:
“Kamu sedang minta AI membantu bagian yang mana, dan setelah dia jawab, bagian mana yang tetap harus kamu kerjakan sendiri?”
