Anak Bilang Semua Temannya Sudah Pakai AI, Haruskah Kita Ikut?

Kalimatnya muncul di mobil, dua lampu merah setelah gerbang sekolah.

“Semua teman aku sudah pakai AI.”

Ayah yang menyetir melirik sebentar ke kaca tengah.

“Semua?”

“Iya.”

“Dua puluh delapan anak?”

Anak diam.

“Ya enggak tahu juga.”

“Berarti bukan semua.”

“Ya maksudnya banyak.”

Di kursi belakang, kakaknya yang sudah SMA ikut menyela.

“Di kelasku juga banyak, tapi beda-beda. Ada yang buat belajar, ada yang cuma minta bikin caption.”

Anak kelas enam itu langsung membela diri.

“Nah, kan. Banyak.”

Percakapan ini ilustratif, tetapi tekanan sosialnya sangat nyata. Anak tidak perlu punya data penggunaan teknologi di seluruh kelas untuk merasa dirinya tertinggal. Cukup tiga teman membicarakan satu fitur baru saat istirahat, lalu sebuah alat bisa terasa seperti sesuatu yang “semua orang” sudah punya.

Pertanyaan orang tua kemudian bukan sekadar apakah AI bagus atau buruk.

Pertanyaannya: kalau anak merasa semua temannya sudah pakai, apakah keluarga harus ikut supaya ia tidak ketinggalan?

Jawaban yang masuk akal bukan “harus” dan bukan “jangan”.

Yang perlu dilakukan adalah memisahkan tiga hal yang sering tercampur: tekanan sosial, kebutuhan nyata, dan kesiapan anak.

“Semua teman” sering berarti orang yang paling terlihat

Anak, bahkan orang dewasa, mudah membaca lingkungan dari hal yang paling sering terdengar.

Teman yang tidak memakai AI biasanya tidak mengumumkan, “Hari ini aku tidak memakai AI.”

Teman yang mencoba fitur baru justru punya sesuatu untuk diceritakan.

“Gue bikin gambar pakai ini.”

“Gue minta dia jelasin matematika.”

“Gue bikin ringkasan.”

Dalam beberapa hari, suara kelompok kecil bisa terasa seperti norma seluruh kelas.

Data yang ada juga menunjukkan bahwa penggunaan AI pada anak memang sudah besar, tetapi tidak berarti universal. Snapshot UNICEF Innocenti yang terbit Juni 2026, berdasarkan survei di sejumlah negara, menemukan bahwa hingga sekitar separuh anak yang disurvei telah menggunakan AI. Tingkat penggunaan berbeda antarnegara dan kondisi ekonomi. UNICEF juga mencatat anak dalam studi tersebut lebih dari tiga kali lebih mungkin menjadi pengguna AI dibanding orang tua atau pengasuh mereka.

Artinya ada dua fakta yang bisa benar sekaligus.

AI sudah menjadi bagian nyata dari kehidupan banyak anak.

Tetapi “semua anak sudah pakai” tetap bukan deskripsi yang akurat untuk setiap kelas, kota, atau keluarga.

Ini penting karena orang tua sebaiknya tidak membuat keputusan hanya berdasarkan FOMO.

Tanya “dipakai buat apa?”, bukan “pakai apa?”

Salah satu cara paling cepat mengurai tekanan sosial adalah memindahkan pembicaraan dari nama alat ke fungsi.

Ayah dalam contoh tadi bisa melanjutkan:

“Temanmu pakai buat apa?”

“Macam-macam.”

“Yang kamu pengin lakukan apa?”

Anak berpikir.

“Buat latihan bahasa Inggris sama cari ide kalau tugas.”

Nah, pembicaraannya berubah.

Sebelumnya topiknya adalah status sosial: teman punya, aku belum.

Sekarang topiknya adalah kebutuhan: latihan bahasa dan brainstorming.

Dari sini orang tua bisa menilai apakah AI memang alat yang cocok, apakah ada opsi lain, apakah platformnya sesuai usia, dan bagaimana penggunaannya akan didampingi.

Tanpa pertanyaan itu, keluarga mudah membeli atau mengizinkan sesuatu tanpa tahu masalah yang sedang ingin dipecahkan.

Teknologi menjadi tiket masuk kelompok, bukan alat dengan fungsi jelas.

Ikut tren tidak selalu salah

Ada kecenderungan orang dewasa untuk menganggap ikut tren sebagai sesuatu yang dangkal.

Padahal banyak teknologi dipelajari karena seseorang melihat temannya menggunakannya.

Anak belajar aplikasi desain dari teman.

Anak mengenal coding dari klub sekolah.

Anak mencoba fitur belajar baru karena teman sekelas membicarakannya.

Social learning seperti ini normal.

Masalah muncul ketika “teman-teman sudah pakai” menjadi satu-satunya alasan dan menutup semua pertanyaan lain.

Misalnya:

Apakah layanan itu memang diperbolehkan untuk usia anak?

Apakah akun memerlukan persetujuan atau pengawasan orang tua?

Data apa yang akan dimasukkan?

Untuk tugas sekolah, apakah guru memperbolehkannya?

Apakah anak tahu bahwa AI bisa salah?

Apakah anak bisa membedakan bantuan belajar dengan menyerahkan seluruh pekerjaan?

Apakah fitur yang ingin dipakai benar-benar membutuhkan akun pribadi?

Pertanyaan ini bukan rem tangan supaya anak tidak pernah mencoba hal baru.

Ini seperti mengecek helm sebelum anak naik sepeda.

Tujuannya bukan membatalkan perjalanan.

Tujuannya agar perjalanan tidak dilakukan tanpa persiapan.

Coba bersama sebelum memutuskan ya atau tidak

Ada opsi tengah yang sering hilang dari percakapan keluarga: trial bersama.

Bukan langsung membuat akun pribadi anak.

Bukan juga menolak karena orang tua belum paham.

Orang tua bisa memilih satu kegiatan sederhana dan mencobanya bersama melalui cara yang sesuai dengan aturan layanan yang digunakan.

Misalnya anak ingin memakai AI untuk bahasa Inggris.

Mereka bisa mengambil satu paragraf yang memang ditulis anak, lalu meminta AI memberikan tiga pertanyaan latihan berdasarkan paragraf tersebut.

Setelah jawaban muncul, orang tua tidak perlu menilai grammar seperti guru bahasa.

Cukup bertanya:

“Ini membantu enggak?”

“Mana yang kamu pahami?”

“Ada yang aneh?”

“Kamu jadi belajar sesuatu atau cuma dapat jawaban?”

Dari percobaan kecil, keluarga mendapatkan data sendiri.

Mungkin anak ternyata sangat terbantu.

Mungkin ia cepat bosan.

Mungkin ia hanya tertarik karena teman-temannya sedang membicarakannya.

Mungkin justru orang tua menemukan penggunaan yang tidak pernah terpikirkan.

Keputusan setelah mencoba akan lebih baik daripada keputusan berdasarkan rumor kelas.

Jangan membuat anak malu karena ingin ikut

“Dasar FOMO.”

Kalimat ini terdengar ringan, tetapi bisa menutup percakapan terlalu cepat.

Di balik keinginan ikut, mungkin ada kebutuhan sosial yang sah.

Anak ingin memahami obrolan teman.

Anak takut terlihat tertinggal.

Anak ingin bisa mengerjakan proyek kelompok dengan alat yang dipakai anggota lain.

Anak penasaran.

Semua itu bisa dibicarakan tanpa menganggap anak dangkal.

Coba respons yang lebih membuka ruang.

“Kamu takut ketinggalan bagian apa?”

Kalau jawabannya, “Nanti semua orang bisa bikin tugas lebih cepat,” itu membuka diskusi tentang integritas belajar.

Kalau jawabannya, “Mereka bikin gambar lucu dan aku enggak bisa ikut,” itu isu yang berbeda.

Kalau jawabannya, “Kelompokku memang pakai AI buat cari ide,” orang tua bisa membantu mengecek aturan tugas dan pembagian kerja.

Satu kalimat “semua teman sudah pakai” ternyata bisa menyembunyikan kebutuhan yang sangat berbeda.

Tes FOMO dengan jeda tiga hari

Kalau tidak ada kebutuhan mendesak, keluarga bisa menggunakan tes sederhana: tunggu tiga hari.

Bukan untuk membuat anak kapok. Justru untuk melihat apakah keinginannya punya bentuk yang jelas.

Hari pertama, minta anak mencatat satu atau dua hal yang ingin ia lakukan dengan AI.

Hari kedua, tanyakan apakah kebutuhan itu masih ada.

Hari ketiga, pilih satu penggunaan yang paling masuk akal untuk dicoba bersama.

Kadang setelah tiga hari, kegembiraan sosialnya sudah turun. Anak sendiri berkata, “Kayaknya aku cuma penasaran.”

Kadang justru kebutuhannya menjadi lebih konkret.

“Aku mau latihan percakapan Inggris karena minggu depan ada role play.”

Itu informasi yang jauh lebih kuat daripada “temanku punya”.

Jeda juga memberi waktu kepada orang tua untuk mengecek aturan usia layanan, kebijakan sekolah, dan pengaturan privasi tanpa membuat keputusan di bawah tekanan.

Penting untuk tidak menjadikan jeda sebagai strategi mengulur tanpa akhir. Kalau orang tua selalu berkata “nanti dicek” lalu tidak pernah kembali, anak akan membaca itu sebagai larangan terselubung.

Jadi beri tanggal yang jelas.

“Sabtu kita coba.”

Dengan begitu anak belajar bahwa keputusan teknologi tidak harus impulsif, tetapi juga tidak harus birokratis. Ada ruang untuk penasaran, ada waktu untuk mengecek, lalu ada keputusan.

Kapan keluarga boleh bilang “belum”

Ada kondisi ketika jawaban “belum” justru masuk akal.

Bukan “tidak selamanya”.

Belum.

Misalnya layanan yang dimaksud tidak sesuai usia anak.

Atau anak belum dapat menjaga informasi pribadi.

Atau ia sedang kesulitan membedakan jawaban AI dengan fakta terverifikasi.

Atau sekolah memiliki aturan yang belum jelas.

Atau orang tua belum sempat memahami platform yang diminta dan memilih mempelajarinya dulu.

Kalimat “belum” sebaiknya disertai alasan dan jalan berikutnya.

“Belum pakai akun sendiri. Minggu ini kita coba bareng dulu.”

“Belum untuk mengerjakan PR. Tapi boleh kita lihat bagaimana AI menjelaskan konsep.”

“Belum pakai aplikasi itu karena Mama mau cek aturan usianya. Kalau cocok, kita bahas lagi.”

Anak mungkin tetap kecewa.

Kecewa tidak berarti keputusan orang tua salah.

Yang perlu dihindari adalah jawaban tanpa konteks yang terdengar seperti teknologi dilarang hanya karena orang tua tidak mengenalnya.

Kapan ikut justru menjadi kesempatan belajar

Kalau anak sudah cukup siap dan layanan sesuai, ikut mencoba AI bisa menjadi momen literasi yang bagus.

Bukan karena keluarga harus mengejar tren.

Justru karena penggunaan pertama bisa dijadikan latihan.

Sebelum mulai, orang tua dan anak bisa membuat tiga kesepakatan.

Jangan memasukkan informasi pribadi atau sensitif sembarangan.

Jangan menganggap jawaban AI otomatis benar.

Untuk tugas, gunakan sesuai aturan guru dan pastikan anak tetap memahami hasilnya.

Lalu biarkan anak mencoba.

Orang tua tidak harus memegang mouse.

“Coba kamu yang jalanin. Ayah lihat.”

Anak memasukkan pertanyaan.

Jawaban muncul.

“Bagus, kan?”

Ayah membaca sebentar.

“Kedengarannya bagus. Sekarang gimana kita tahu ini benar?”

Pertanyaan itu mengubah sesi dari demo teknologi menjadi latihan berpikir.

Ada keuntungan ketika tidak menjadi yang pertama

Anak sering melihat keterlambatan sebagai kerugian.

Padahal menjadi pengguna paling awal bukan selalu keuntungan.

Keluarga yang datang sedikit belakangan punya kesempatan melihat masalah yang dialami orang lain, memahami aturan, memilih alat yang lebih sesuai, dan membuat kebiasaan yang lebih matang sejak awal.

Dalam teknologi anak, kecepatan bukan satu-satunya ukuran kesiapan.

Ada keluarga yang siap lebih cepat.

Ada yang membutuhkan waktu.

Ada anak yang cukup mandiri memakai alat belajar.

Ada anak yang lebih mudah percaya pada jawaban yang terdengar meyakinkan.

Ada sekolah yang sudah punya aturan AI.

Ada yang masih merumuskan.

Perbandingan dengan teman hanya memberi satu potongan informasi.

Keputusan keluarga membutuhkan potongan lain.

Di mobil, percakapan tadi belum selesai.

Anak masih bersandar di kursi belakang.

“Jadi aku boleh?”

Ayah menjawab, “Kita coba dulu buat latihan bahasa Inggris akhir pekan ini.”

“Pakai akun aku?”

“Belum tentu. Kita cek dulu.”

“Kenapa ribet sih?”

Kakaknya tertawa.

“Karena kamu bilang semua orang pakai, bukan berarti semua orang baca aturannya.”

Anak mendengus, tetapi ikut tertawa.

Tidak ada keputusan besar hari itu.

Hanya satu perubahan kecil: dari “semua teman sudah pakai” menjadi “aku mau pakai untuk apa, dan aku sudah siap belum?”

Itu pertanyaan yang jauh lebih berguna daripada mengejar siapa yang paling cepat ikut tren.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top