Bayangkan sebuah aplikasi baru diluncurkan.
Desainnya bagus.
Fitur sosialnya cepat.
Algoritmanya agresif.
Bisnisnya tumbuh.
Enam bulan kemudian, orang baru bertanya:
“Anak-anak pakai juga nggak?”
Terlambat.
Anak tidak menunggu produk disebut “aplikasi anak” sebelum menggunakannya.
Mereka memakai mesin pencari.
Game.
Video.
Chat.
AI.
Marketplace.
Aplikasi kreatif.
Platform belajar.
Media sosial.
Banyak teknologi umum akhirnya masuk kehidupan anak.
Inilah alasan regulasi teknologi selalu harus memikirkan anak.
Bukan karena semua teknologi harus dibuat khusus anak.
Tetapi karena anak adalah bagian nyata dari masyarakat digital.
Kalau regulator, perusahaan, dan desainer baru memikirkan anak setelah dampak muncul, perlindungan selalu tertinggal.
Anak bukan “orang dewasa versi kecil”
Ini dasar pertama.
Kemampuan anak berkembang.
Anak kecil memahami risiko berbeda dari remaja.
Kontrol impuls berbeda.
Kemampuan membaca iklan berbeda.
Pemahaman privacy policy berbeda.
Kemampuan menilai manipulasi berbeda.
Hubungan dengan orang asing berbeda.
Kapasitas memahami bahwa chatbot bukan manusia juga bisa berbeda.
Karena itu desain yang dianggap dapat diterima untuk orang dewasa belum tentu sesuai untuk anak.
Notifikasi yang bagi orang dewasa hanya mengganggu bisa sangat kuat memengaruhi anak.
Gamification yang bagi orang dewasa terasa ringan bisa membuat anak sulit berhenti.
Iklan yang jelas bagi orang dewasa belum tentu dikenali anak sebagai persuasi.
Consent yang legalistik mungkin tidak bermakna bagi anak.
Regulasi child-aware perlu melihat perkembangan, bukan hanya usia di formulir.
Anak punya hak, bukan hanya risiko
Pembicaraan regulasi sering terjebak pada safety.
Blokir.
Batasi.
Larangan.
Semua penting dalam konteks tertentu.
Tetapi anak juga punya hak positif.
Hak belajar.
Hak mendapat informasi.
Hak berpartisipasi.
Hak berekspresi.
Hak bermain.
Hak mendapat akses.
Hak privasi.
Hak diperlakukan adil.
Hak mendapat perlindungan dari eksploitasi.
General Comment No. 25 dari Komite Hak Anak PBB menjelaskan bahwa hak anak harus dihormati, dilindungi, dan dipenuhi juga di lingkungan digital.
Ini mengubah perspektif regulasi.
Tujuannya bukan hanya membuat teknologi “tidak berbahaya”.
Tujuannya memastikan anak bisa mendapat manfaat tanpa hak mereka dikorbankan.
Regulasi yang hanya memblokir risiko bisa menghilangkan kesempatan.
Regulasi yang hanya mengejar inovasi bisa mengabaikan perlindungan.
Anak membutuhkan keduanya.
Kepentingan terbaik anak perlu masuk sejak desain
Indonesia melalui PP Nomor 17 Tahun 2025 sudah menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai prinsip penting dalam tata kelola sistem elektronik bagi produk, layanan, dan fitur yang digunakan atau mungkin diakses anak.
Ini penting karena keputusan desain biasanya dibuat sebelum pengguna melihat produk.
Apakah privacy setting default terbuka?
Apakah lokasi dikumpulkan?
Apakah anak bisa menerima DM dari orang asing?
Apakah ada autoplay?
Apakah notifikasi malam hari aktif?
Apakah sistem membuat profil?
Apakah iklan dipersonalisasi?
Apakah ada mekanisme report?
Semua adalah keputusan desain.
Kalau regulasi baru masuk setelah anak mengalami masalah, kita selalu bermain kejar-kejaran.
Lebih baik safety dan rights by design.
Perusahaan mempertimbangkan anak sebelum launch.
Bukan setelah headline negatif.
“Kalau produknya bukan untuk anak, kenapa harus memikirkan anak?”
Karena realitas penggunaan sering berbeda dari target marketing.
Platform mungkin menyatakan targetnya umum.
Tetapi anak tetap datang.
Atau satu fitur memang bukan untuk anak, tetapi fitur lain digunakan keluarga.
Atau akun dibuat orang tua lalu dipakai anak.
Atau konten platform mudah diakses tanpa login.
Regulasi perlu melihat foreseeable access.
Apakah masuk akal memprediksi anak akan menggunakan?
PP TUNAS sendiri menggunakan pendekatan terhadap produk, layanan, dan fitur yang ditujukan atau mungkin diakses anak.
Ini lebih realistis daripada hanya melihat label produk.
Anak tidak membaca positioning deck perusahaan sebelum install.
Mereka melihat apa yang teman pakai.
Regulasi harus mengikuti kehidupan nyata.
Anak punya daya tawar lebih kecil
Bayangkan anak menekan:
“I Agree.”
Di satu sisi ada perusahaan global dengan tim legal, data scientist, dan sistem desain.
Di sisi lain ada anak 12 tahun.
Apakah kita benar-benar ingin mengatakan keduanya punya kekuatan kontraktual yang sama?
Tidak.
Itulah alasan perlindungan khusus diperlukan.
Anak tidak selalu memahami bagaimana data digunakan.
Tidak selalu bisa membaca dark pattern.
Tidak tahu cara meminta penghapusan.
Tidak tahu siapa regulator.
Tidak punya uang untuk menggugat.
Tidak punya pengalaman menilai risiko.
Kekuatan tidak seimbang.
Regulasi hadir untuk mengoreksi sebagian ketimpangan itu.
Literasi anak tetap penting.
Tetapi tidak adil jika semua beban safety diletakkan pada anak.
“Anaknya harus hati-hati.”
Benar.
“Perusahaannya harus mendesain bertanggung jawab.”
Juga benar.
Kedua lapisan diperlukan.
Data anak perlu perlindungan lebih tinggi
Data digital bisa mengikuti anak lama.
Umur mereka masih panjang.
Data masa kecil dapat mencakup:
kebiasaan,
lokasi,
pendidikan,
minat,
kesehatan,
foto,
suara,
dan relasi.
Anak juga berubah cepat.
Profil umur 10 tahun bisa tidak relevan di umur 15.
Kalau sistem terus membawa label lama, perkembangan anak bisa terhambat.
Inilah alasan data anak perlu diperlakukan berbeda.
PP TUNAS mengatur berbagai kewajiban perlindungan dalam konteks sistem elektronik anak, termasuk pendekatan privasi tinggi dan pembatasan tertentu.
UU PDP juga memberi perlakuan khusus pada data pribadi anak.
Prinsipnya:
masa kecil bukan kesempatan mengumpulkan profil sebanyak mungkin.
Data harus proporsional.
Purpose-limited.
Dijaga.
Dan tidak dipakai melawan perkembangan anak.
Regulasi harus melihat risiko bisnis, bukan hanya konten
Teknologi bisa aman dari pornografi tetapi tetap mengeksploitasi anak sebagai konsumen.
In-app purchase.
Loot box-like mechanics.
Streak.
Subscription.
Reward.
Iklan tersembunyi.
Influencer marketing.
Design yang mendorong penggunaan.
Anak belum selalu punya kemampuan membaca persuasi.
Maka regulasi child-aware perlu melihat model bisnis.
Siapa yang mendapat keuntungan dari perhatian anak?
Apakah anak didorong membeli?
Apakah data digunakan untuk targeting?
Apakah desain membuat mereka sulit berhenti?
PP TUNAS memasukkan eksploitasi anak sebagai konsumen dan risiko adiksi dalam kerangka penilaian risiko.
Ini langkah penting.
Safety bukan hanya isi.
Safety juga ekonomi produk.
AI membuat kebutuhan regulasi semakin jelas
AI memiliki karakter tambahan.
Output bisa tidak terduga.
Model bisa bias.
Anak bisa memperlakukan chatbot seperti manusia.
Deepfake mudah dibuat.
Sistem bisa memberi rekomendasi personal.
AI bisa masuk keputusan pendidikan.
Data anak dapat digunakan dalam cara yang kompleks.
UNICEF dalam Guidance on AI and Children 2025 merumuskan sepuluh kebutuhan utama untuk child-centred AI, termasuk regulatory oversight, safety, privacy, fairness, transparency, responsible AI practice, best interests and well-being, inclusion, support for skills, dan meaningful participation anak.
Daftar itu menunjukkan satu hal:
tidak cukup mengatur satu risiko.
Ekosistemnya luas.
AI yang child-centred memerlukan pemerintah, perusahaan, sekolah, keluarga, dan anak.
Regulasi adalah salah satu lapisan.
Bukan seluruh jawabannya.
Regulasi juga harus mendengar anak
Ada bahaya lain.
Orang dewasa membuat aturan “demi anak” tanpa pernah bertanya kepada anak.
Akibatnya, aturan bisa tidak realistis.
Misalnya melarang fitur tertentu yang ternyata digunakan anak disabilitas untuk aksesibilitas.
Atau membuat age gate yang mudah dibohongi.
Atau aturan sekolah yang mendorong anak menggunakan akun orang tua diam-diam.
Partisipasi anak penting.
Bukan berarti anak menentukan seluruh hukum.
Mereka memberi insight tentang pengalaman nyata.
Apa yang membuat sulit berhenti?
Fitur apa yang membantu?
Apa yang mereka sembunyikan dari orang tua?
Kenapa mereka memalsukan usia?
Bagaimana mereka menggunakan AI?
Regulator dan perusahaan mendapat data yang tidak bisa dilihat dari dashboard.
UNICEF memasukkan meaningful participation anak sebagai salah satu elemen child-centred AI.
Ini penting.
Anak bukan objek regulasi.
Mereka juga stakeholder.
Aturan usia harus masuk akal dan bisa diterapkan
Membuat angka minimum mudah.
Menerapkannya sulit.
Bagaimana verifikasi usia tanpa mengambil data berlebihan?
Bagaimana menjaga privasi?
Bagaimana akun keluarga?
Bagaimana anak yang tidak punya identitas formal tertentu?
Bagaimana platform global?
Bagaimana anak yang dibantu orang tua?
Regulasi harus menyeimbangkan.
Safety.
Privacy.
Access.
Practicality.
Age assurance yang terlalu invasif bisa justru menciptakan risiko data baru.
Age gate yang terlalu lemah hanya menjadi tulisan.
Ini contoh kenapa regulasi teknologi membutuhkan desain detail.
Bukan slogan.
Hak anak sering saling bertemu
Misalnya privasi dan safety.
Untuk mendeteksi grooming, platform mungkin membutuhkan sinyal tertentu.
Tetapi pengawasan berlebihan merusak privasi.
Untuk age assurance, platform butuh informasi umur.
Tetapi pengumpulan identitas berlebihan menambah risiko.
Untuk personalisasi pendidikan, data membantu.
Tetapi profiling bisa membatasi anak.
Regulasi harus bekerja pada trade-off.
Tidak ada satu prinsip yang selalu menang secara otomatis.
Kepentingan terbaik anak membantu menjadi kompas.
Pertanyaannya:
apa perlindungan yang paling proporsional dengan risiko sambil tetap menjaga hak lain?
Itu pekerjaan yang sulit.
Tetapi anak tidak boleh menjadi alasan untuk memilih solusi paling mudah.
Regulasi juga harus adaptif
Teknologi bergerak.
Aturan tidak bisa diperbarui setiap hari.
Maka prinsip perlu kuat.
Best interests.
Data minimization.
Transparency.
Accountability.
Safety by design.
Fairness.
Child participation.
Human oversight.
Prinsip bertahan meski tool berganti.
Lalu aturan teknis bisa disesuaikan.
Indonesia sudah mengambil langkah dengan PP TUNAS dan Permenkomdigi 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksanaan.
Implementasi akan menjadi bagian penting berikutnya.
Regulasi bagus di kertas perlu pengawasan.
Perusahaan perlu compliance.
Orang tua perlu informasi.
Sekolah perlu kebijakan.
Anak perlu jalur laporan.
Tanpa implementasi, regulasi hanya dokumen.
Inovasi tidak harus kalah
Ada narasi:
“Kalau terlalu banyak aturan, inovasi mati.”
Tidak harus begitu.
Regulasi yang baik memberi batas jelas.
Perusahaan tahu standar.
Orang tua punya trust.
Sekolah lebih berani mengadopsi.
Anak mendapat perlindungan.
Inovasi yang mengabaikan hak anak mungkin cepat di awal tetapi mahal saat masalah muncul.
Produk yang child-aware sejak desain justru bisa lebih tahan lama.
Pertanyaannya bukan:
“Regulasi atau inovasi?”
Pertanyaannya:
“Bagaimana membuat inovasi yang layak digunakan manusia, termasuk manusia yang masih tumbuh?”
Anak adalah stress test untuk kualitas teknologi
Ini cara menarik melihatnya.
Kalau produk cukup transparan untuk anak, mungkin penjelasannya juga lebih baik untuk orang dewasa.
Kalau privacy default aman untuk anak, banyak orang dewasa juga mendapat manfaat.
Kalau dark pattern dilarang untuk anak, desain menjadi lebih jujur.
Kalau mekanisme report mudah dipakai anak, semua pengguna terbantu.
Mendesain untuk kelompok yang lebih rentan sering meningkatkan kualitas sistem secara keseluruhan.
Child-centred design bukan niche.
Ia bisa menjadi standar kualitas.
Kembali ke aplikasi yang tadi diluncurkan
Bayangkan perusahaan sudah bertanya sejak awal:
Apakah anak mungkin mengakses?
Kalau iya:
usia bagaimana?
Privacy default bagaimana?
DM bagaimana?
Data apa yang perlu?
Apa yang tidak perlu?
Bagaimana report?
Bagaimana iklan?
Bagaimana waktu penggunaan?
Bagaimana orang tua mendapat informasi?
Bagaimana anak memahami AI?
Sekarang regulasi tidak datang sebagai rem darurat.
Ia menjadi bagian dari desain.
Itulah mengapa regulasi teknologi selalu harus memikirkan anak.
Bukan karena anak harus dilindungi dari semua teknologi.
Tetapi karena teknologi sudah ikut membentuk masa kecil.
Dan kalau masa kecil ikut berubah, hak anak tidak boleh datang belakangan.
