Ayah Ibu Gaptek AI, Haruskah Malu di Depan Anak?

KAKATU.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM
FormatPost
Diperbarui22 August 2026
Waktu baca8 menit
KonteksPanduan praktis

Di grup WhatsApp orang tua kelas, satu pesan muncul menjelang makan malam.

“Bapak Ibu, ada yang tahu aplikasi AI yang dipakai anak-anak buat tugas bahasa?”

Beberapa detik kemudian, balasan berdatangan.

“Aduh saya juga bingung.”

“Anak saya bilang namanya beda-beda.”

“Saya malah baru tahu ada AI yang bisa baca foto.”

Lalu seseorang mengirim stiker tertawa dan menulis, “Kita kalah sama bocah.”

Kalimat itu terdengar ringan. Tetapi untuk sebagian orang tua, rasa “kalah” tadi bisa nyata. Anak sudah tahu cara meminta AI membuat rangkuman, mengubah gambar, menjelaskan soal, atau mencari ide. Sementara ayah dan ibu masih mencari letak tombol untuk memulai percakapan baru.

Kalau situasinya begini, haruskah malu?

Tidak.

Yang perlu diwaspadai justru bukan ketidaktahuan, melainkan ketika rasa malu membuat orang tua memilih dua jalan yang sama-sama tidak membantu: berpura-pura paham atau menjauh sama sekali.

UNICEF dalam brief tentang penggunaan AI oleh anak dan keluarga yang terbit pada 2026 menekankan bahwa orang tua, pengasuh, dan pendidik perlu didukung untuk belajar bersama anak. Pesannya penting. Pendampingan AI tidak dibangun dari asumsi bahwa orang dewasa selalu paling dulu menguasai teknologi.

Di rumah, yang dibutuhkan anak bukan orang tua yang hafal semua fitur. Anak membutuhkan orang dewasa yang masih bersedia hadir ketika teknologinya berubah.

“MAS, MAMA ENGGA PAHAM. TUNJUKIN DONG.”

Di rumah lain, kita bisa memakai ilustrasi sederhana.

Seorang anak kelas tujuh sedang membuat presentasi. Ibunya lewat dan melihat kotak percakapan AI terbuka.

“Itu yang kamu pakai kemarin?”

“Iya.”

“Bisa buat apa?”

“Banyak.”

“Contohnya?”

Anak mulai menjelaskan. Ia menunjukkan bagaimana AI diminta membuat daftar ide. Ibunya mengikuti sambil beberapa kali bertanya.

“Kalau dia kasih informasi salah gimana?”

“Ya dicek lagi.”

“Kamu biasanya cek di mana?”

Anak diam sebentar.

“Nah, itu Mama pengin tahu.”

Percakapan berubah.

Awalnya, anak adalah orang yang lebih mengerti tool. Beberapa menit kemudian, ibunya menggeser pembicaraan dari “tombolnya yang mana” ke “jawaban ini bisa dipercaya atau tidak”.

Inilah pembagian peran yang sering terlewat.

Anak mungkin punya keunggulan operasional.

Orang tua membawa pengalaman menilai konsekuensi.

Anak bisa tahu fitur baru lebih cepat.

Orang tua bisa membantu bertanya apakah fitur itu pantas dipakai untuk situasi tertentu.

Anak tahu cara membuat gambar.

Orang tua bisa bertanya apakah fotonya milik sendiri, apakah ada wajah teman, dan apakah semua orang yang terlihat sudah setuju.

Jadi “gaptek” tidak otomatis berarti tidak relevan.

Masalah muncul kalau ketidaktahuan berubah menjadi ketidakhadiran.

BERPURA-PURA TAHU JUSTRU BISA MERUSAK KEPERCAYAAN

Ada godaan kecil ketika anak bertanya sesuatu tentang teknologi.

“Ayah tahu enggak ini aman?”

Kalau tidak tahu, orang tua kadang ingin memberi jawaban cepat agar tetap terlihat berwibawa.

“Aman kok.”

Atau sebaliknya:

“Enggak aman. Jangan dipakai.”

Padahal belum pernah mengecek.

Anak yang sudah menggunakan tool itu bisa segera mengetahui bahwa jawabannya terlalu sederhana. Dalam jangka panjang, otoritas yang dibangun dari pura-pura tahu mudah retak.

Jauh lebih kuat mengatakan:

“Ayah belum tahu. Kita cek aturan dan pengaturannya dulu.”

Kalimat “belum tahu” bukan kekalahan.

Ia justru memperagakan satu kebiasaan penting di era AI: jangan membuat kepastian ketika bukti belum ada.

Anak belajar sesuatu dari cara orang tua menghadapi ketidaktahuan.

Jika orang tua panik saat tidak tahu, anak belajar bahwa ketidaktahuan itu memalukan.

Jika orang tua menebak dengan percaya diri, anak belajar bahwa terdengar yakin lebih penting daripada benar.

Jika orang tua berkata “kita cari tahu”, anak belajar bahwa ketidaktahuan adalah titik awal investigasi.

Bukankah itu juga yang kita harapkan saat anak berhadapan dengan jawaban AI?

BEDAKAN “GAPTEK” DENGAN “TIDAK MAU BELAJAR”

Label gaptek sering terlalu kasar.

Ada ayah yang tidak tahu istilah “prompt”, tetapi sangat teliti ketika membaca syarat penggunaan aplikasi.

Ada ibu yang tidak pernah memakai generator gambar, tetapi peka saat anak hampir mengunggah foto teman tanpa izin.

Ada kakek yang tidak tahu perbedaan model AI, tetapi langsung bertanya, “Data yang kita masukkan ke sana disimpan di mana?”

Mereka mungkin tidak fasih secara teknis. Tetapi pertanyaannya bernilai tinggi.

Sebaliknya, seseorang bisa sangat lancar menggunakan AI tetapi tidak pernah memeriksa kebenaran jawabannya, tidak memikirkan privasi, dan membiarkan mesin mengambil keputusan yang seharusnya dipikirkan sendiri.

Jadi kemampuan AI keluarga sebaiknya tidak diukur dari seberapa cepat seseorang mengetik prompt.

Ada beberapa lapisan yang sama pentingnya:

tahu apa yang alat bisa dan tidak bisa lakukan,

tahu bahwa output bisa salah,

tahu kapan perlu verifikasi,

tahu data apa yang tidak pantas dimasukkan,

tahu kapan anak perlu bantuan manusia,

dan tahu kapan AI sebaiknya tidak dipakai.

Orang tua boleh mulai dari nol pada lapisan teknis sambil tetap berperan kuat pada lapisan penilaian.

BUAT ANAK MENJADI GURU, TAPI JANGAN SERAHKAN SELURUH TANGGUNG JAWAB

Ada cara yang cukup efektif untuk mengurangi rasa malu: biarkan anak mengajari orang tua satu hal kecil.

Misalnya:

“Ajari Mama bikin satu pertanyaan ke AI.”

“Coba tunjukin fitur yang paling sering kamu pakai.”

“Kalau teman-temanmu bilang tool ini keren, mereka biasanya pakai buat apa?”

Anak sering menikmati posisi sebagai orang yang bisa mengajari.

Tetapi ada batasnya.

Kalau anak menjadi “guru fitur”, bukan berarti ia otomatis menjadi penanggung jawab keselamatan keluarga.

Anak tidak seharusnya dipaksa memahami sendiri kebijakan privasi yang rumit, aturan usia, konsekuensi mengunggah data, atau risiko konten yang tidak sesuai.

Di situlah orang dewasa tetap masuk.

Skenario ilustratif:

“Pa, ini AI bisa bikin video dari fotoku.”

“Bagus?”

“Lucu.”

“Foto siapa yang kamu pakai?”

“Foto aku sama Raka.”

“Raka tahu?”

“Belum.”

“Nah, sebelum bahas hasil videonya, kita bahas itu dulu.”

Ayahnya tidak perlu tahu cara kerja model video.

Ia cukup mengenali bahwa wajah teman bukan sekadar bahan eksperimen.

KAPAN ORANG TUA PERLU BELAJAR LEBIH SERIUS?

Tidak semua fitur harus dikuasai. Waktu orang tua terbatas.

Pilih berdasarkan apa yang benar-benar dipakai anak.

Jika anak tidak pernah memakai AI untuk gambar, tidak perlu mendadak mempelajari sepuluh generator gambar.

Jika ia memakai chatbot hampir setiap hari untuk sekolah, pelajari chatbot itu.

Jika ia mulai memakai fitur suara, pahami bagaimana fitur tersebut bekerja dan data apa yang mungkin masuk.

Jika sekolah meminta penggunaan platform tertentu, baca panduan resminya.

Jika sebuah layanan memiliki aturan usia, akun anak, kontrol keluarga, atau pengaturan privasi, jangan mengandalkan potongan video pendek sebagai satu-satunya sumber.

Gunakan sumber resmi layanan tersebut dan lihat apakah aturan berbeda menurut usia, wilayah, atau jenis akun.

Hal ini penting karena layanan AI tidak mempunyai satu aturan universal.

Fitur berubah.

Syarat usia bisa berbeda.

Akun sekolah bisa punya kebijakan berbeda dari akun pribadi.

Pengaturan untuk pengguna dewasa bisa berbeda dari pengalaman pengguna yang lebih muda.

Orang tua tidak harus hafal semua perubahan itu. Cukup punya kebiasaan untuk mengecek ketika keputusan keluarga bergantung padanya.

COBA “15 MENIT AI BARENG” SEKALI SEMINGGU

Pendampingan tidak perlu menjadi proyek rumah tangga besar.

Satu eksperimen sederhana:

pilih satu malam,

15 menit,

satu perangkat,

satu kebutuhan nyata.

Misalnya keluarga ingin membuat rencana menu dari bahan yang ada di kulkas.

Atau anak ingin meminta penjelasan konsep IPA.

Atau ayah ingin merangkum artikel panjang.

Gunakan bersama.

Lalu jangan berhenti ketika jawaban muncul.

Tanyakan:

“Apa yang bagus dari jawaban ini?”

“Ada yang aneh?”

“Ada yang perlu dicek?”

“Data apa tadi yang kita masukkan?”

“Kalau jawaban ini salah, dampaknya apa?”

Lima pertanyaan itu lebih berguna daripada lomba siapa yang paling cepat membuat prompt.

Dalam beberapa minggu, orang tua mulai mengenali pola. Anak juga mulai melihat bahwa penggunaan AI di rumah bukan aktivitas rahasia yang hanya dipahami generasinya.

KALAU ANAK MENERTAWAKAN, BOLEH TERTAWA BARENG

Anak kadang memang geli melihat orang tua salah pencet.

“Pa, bukan itu.”

“Lho, terus yang mana?”

“Yang ini. Dari tadi Ayah buka menu yang salah.”

Tidak perlu mengubah momen itu menjadi ceramah tentang menghormati orang tua.

Boleh tertawa.

Humor bisa menurunkan tensi, selama orang tua tidak menggunakan candaan untuk meremehkan anak dan anak juga tidak dibiarkan merendahkan orang tua.

Yang penting, setelah tertawa, proses belajarnya jalan.

“Ya sudah, sekarang ajari Ayah. Setelah itu gantian Ayah nanya: kalau AI kasih sumber, kamu biasanya cek enggak?”

Ada pertukaran.

Anak punya sesuatu yang diketahui.

Orang tua juga punya sesuatu yang dibawa.

Hubungan terasa lebih setara tanpa kehilangan tanggung jawab orang dewasa.

JANGAN JADIKAN KECEPATAN ANAK SEBAGAI ANCAMAN

Ada fase dalam hidup ketika anak memang akan lebih cepat menguasai hal tertentu.

Mereka mungkin lebih cepat mengerti aplikasi.

Lebih cepat menangkap tren.

Lebih cepat menemukan shortcut.

Itu tidak menghapus pengalaman orang tua.

Teknologi mengubah bentuk pertanyaan, tetapi banyak keterampilan dasar tetap sama.

Apakah informasi itu masuk akal?

Siapa yang diuntungkan?

Apa risikonya?

Apa yang terjadi kalau keputusan ini salah?

Apakah kita sedang mengambil hak orang lain?

Apakah ada data pribadi?

Apakah kita masih berpikir sendiri?

Pertanyaan seperti itu tidak kedaluwarsa hanya karena antarmukanya baru.

Dan di sinilah orang tua bisa punya peran kuat bahkan ketika ia baru belajar AI kemarin sore.

MALU MEMBUAT JARAK, RASA INGIN TAHU MEMBUKA PINTU

Bayangkan anak pulang membawa satu tool baru.

“Ma, teman-teman lagi pakai ini.”

Respons pertama bisa menentukan arah percakapan.

“Ah Mama enggak ngerti begituan.”

Percakapan selesai.

Atau:

“Apaan tuh? Coba tunjukin.”

Percakapan dimulai.

Orang tua tidak harus langsung menyetujui penggunaan tool tersebut. Setelah melihat, bisa saja keputusan akhirnya “belum boleh”, “boleh kalau ditemani”, atau “boleh untuk kebutuhan tertentu”.

Bedanya, keputusan lahir dari rasa ingin tahu, bukan rasa malu.

UNICEF pada 2026 mendorong dukungan agar orang tua dan anak bisa belajar berdampingan, sekaligus membangun literasi AI, berpikir kritis, dan penggunaan yang mendukung perkembangan anak.

Di rumah, konsep besar itu bisa dimulai dari pengakuan yang sangat sederhana.

“Ayah belum ngerti.”

Lalu satu kalimat lagi:

“Tapi Ayah mau ngerti cukup banyak supaya kalau kamu butuh bantuan, kita bisa mikir bareng.”

Itu sudah mengubah posisi orang tua.

Bukan ahli.

Bukan polisi teknologi.

Bukan penonton yang menyerah.

Pendamping.

Dan untuk menjadi pendamping, orang tua tidak perlu tahu semua jalan.

Ia hanya perlu tidak meninggalkan anak berjalan sendirian karena malu bertanya arah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top