Remaja Memakai AI untuk Menentukan Jurusan Kuliah, Boleh Sejauh Apa?

Di meja makan, seorang anak kelas 12 meletakkan ponselnya di antara piring nasi dan gelas air.

“Aku tadi nanya AI soal jurusan.”

Ibunya mengangguk. “Terus?”

“Katanya aku cocok masuk psikologi, komunikasi, atau manajemen. Urutannya psikologi paling atas.”

Ayahnya menoleh. “Kok dia tahu?”

“Aku ceritain nilai, pelajaran yang aku suka, organisasi, sama katanya aku suka dengerin orang curhat.”

“Terus kamu jadi mau psikologi?”

Anaknya menarik napas. “Nah, itu. Aku malah makin bingung.”

Adegan ini ilustratif, tetapi kebingungannya sangat masuk akal. AI generatif bisa membuat proses mencari jurusan terasa jauh lebih cepat. Remaja dapat memasukkan minat, nilai, kegiatan sekolah, lalu meminta daftar program studi yang dianggap cocok. Dalam hitungan detik muncul nama jurusan, alasan, prospek, bahkan simulasi mata kuliah.

Masalahnya bukan pada daftar itu. Masalah muncul ketika daftar berubah menjadi keputusan.

Untuk urusan memilih jurusan, AI paling berguna sebagai alat untuk memperluas pertanyaan, bukan sebagai hakim yang mengumumkan masa depan anak.

Pedoman pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial di pendidikan Indonesia yang ditetapkan pada 2026 menempatkan penggunaan AI dalam kerangka yang berpusat pada manusia. UNESCO juga memasukkan human-centred mindset, etika, pemahaman teknik AI, serta desain dan pemecahan masalah sebagai bagian dari kompetensi AI siswa. Arah besarnya jelas: manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Jadi, seberapa jauh AI boleh membantu?

Boleh membantu cukup jauh. Tetapi keputusan terakhir harus tetap dibangun dari pengalaman, informasi resmi, percakapan dengan manusia, dan pertimbangan yang tidak dapat diketahui chatbot secara utuh.

AI bisa membuka pintu yang sebelumnya tidak terlihat

Banyak remaja mengenal jurusan kuliah dari lingkaran yang sempit.

Ada yang tahu kedokteran karena keluarga punya dokter. Ada yang tahu teknik karena kakaknya kuliah teknik. Ada yang berpikir jurusan bisnis hanya manajemen dan akuntansi. Ada juga yang belum pernah mendengar program studi tertentu karena tidak ada orang di sekitarnya yang pernah membicarakannya.

Di sini AI dapat berguna.

Misalnya seorang siswa berkata:

“Aku suka biologi, menulis, presentasi, dan isu lingkungan. Aku tidak terlalu suka hitungan yang sangat abstrak. Jurusan apa yang layak aku eksplorasi?”

Jawaban AI sebaiknya tidak dibaca sebagai hasil tes bakat. Anggap saja seperti seseorang menyodorkan papan berisi banyak pintu.

“Oh, ternyata ada kesehatan masyarakat.”

“Ternyata ada komunikasi sains.”

“Ternyata ada ilmu lingkungan.”

“Ternyata ada perencanaan wilayah.”

Nilai pertamanya adalah information gain. Remaja mendapat kosakata untuk melakukan pencarian berikutnya.

Setelah itu, pekerjaan penting justru dimulai.

Ubah AI dari pemberi jawaban menjadi pembuat pertanyaan

Jika anak hanya bertanya, “Jurusan apa yang cocok buat aku?”, model mungkin membuat rekomendasi berdasarkan pola dari informasi yang diberikan. Jawabannya dapat terdengar yakin, padahal konteks anak jauh lebih besar daripada prompt.

Coba balik perannya.

Bukan:

“Tentukan jurusan terbaik untukku.”

Tetapi:

“Ajukan 15 pertanyaan yang akan membantuku memahami jenis kegiatan belajar dan pekerjaan yang membuatku betah.”

Atau:

“Aku sedang mempertimbangkan arsitektur dan teknik sipil. Jangan pilihkan. Bantu aku membandingkan jenis tugas kuliah, gaya belajar, kegiatan harian, dan pertanyaan yang perlu kutanyakan kepada mahasiswa kedua jurusan.”

Atau:

“Dari informasi yang kuberikan, bagian mana yang masih kurang sebelum seseorang bisa membuat rekomendasi jurusan yang masuk akal?”

Pertanyaan terakhir sangat penting.

AI yang bagus digunakan untuk mengungkapkan ketidaklengkapan informasi, bukan menutupnya dengan jawaban yang rapi.

Seorang remaja mungkin suka menggambar. Itu belum otomatis berarti desain.

Ia mungkin suka debat. Itu belum otomatis berarti hukum.

Ia mungkin nilai biologinya tinggi. Itu belum otomatis berarti kedokteran.

Minat, kemampuan, stamina belajar, nilai hidup, kondisi finansial keluarga, kebutuhan dukungan, lokasi, jalur masuk, dan kenyataan program studi semuanya berinteraksi.

Tidak ada satu prompt yang bisa merangkum seseorang.

Buat tiga lapis verifikasi

Dalam skenario meja makan tadi, ayahnya bisa berkata, “Oke. Anggap hasil AI itu daftar awal. Sekarang kita cek tiga hal.”

“Apaan?”

“Yang kamu rasakan, yang kampus bilang, dan yang manusia di bidang itu alami.”

Tiga lapis ini cukup kuat.

Lapis pertama adalah diri sendiri.

Apa kegiatan yang membuat anak betah dua jam tanpa dipaksa? Tugas seperti apa yang cepat membuatnya lelah? Ia lebih senang memecahkan masalah yang jawabannya terukur, membuat sesuatu, membaca manusia, bekerja dengan bahasa, atau mengorganisasi sistem? Apakah ia nyaman dengan ketidakpastian? Seberapa penting stabilitas, kreativitas, dampak sosial, penghasilan, lokasi, atau fleksibilitas baginya?

Tidak semua pertanyaan harus punya jawaban pada usia 17 tahun. Justru proses menyadari “aku belum tahu” itu sehat.

Lapis kedua adalah sumber resmi.

Jika AI mengatakan suatu jurusan punya mata kuliah tertentu, cek kurikulum terbaru di situs resmi program studi. Jika membicarakan jalur masuk, cek portal resmi penerimaan. Jika menyebut biaya, akreditasi, persyaratan, atau ketentuan khusus, verifikasi dari sumber yang berwenang.

Jangan memakai chatbot sebagai sumber final untuk fakta yang bisa berubah.

Lapis ketiga adalah manusia.

Bicara dengan mahasiswa, alumni, guru BK, dosen saat open house, profesional yang bekerja di bidang terkait, atau orang lain yang benar-benar memahami lingkungan tersebut.

Bukan untuk meminta mereka memilihkan jurusan.

Untuk mendapatkan tekstur yang sering hilang dari ringkasan AI.

“Di jurusan ini tugas paling bikin kaget apa?”

“Hal yang kamu kira akan kamu pelajari tetapi ternyata tidak?”

“Kalau bisa balik ke kelas 12, informasi apa yang ingin kamu tahu dulu?”

Pertanyaan seperti itu menghasilkan gambaran kehidupan, bukan hanya deskripsi brosur.

Jangan masukkan seluruh hidup anak ke chatbot

Ada sisi lain yang sering terlupakan ketika proses pemilihan jurusan dilakukan melalui AI: privasi.

Remaja bisa tergoda menceritakan semuanya karena merasa semakin detail prompt, semakin akurat jawabannya.

Nama lengkap, alamat, sekolah, nilai rapor, kondisi keluarga, masalah kesehatan, konflik pribadi, hasil asesmen psikologis, dokumen identitas, sampai informasi finansial keluarga tidak perlu dilempar begitu saja ke sistem AI.

Prinsipnya sederhana: berikan informasi secukupnya untuk tujuan yang jelas.

“Aku siswa SMA yang suka biologi dan komunikasi” biasanya cukup untuk brainstorming awal.

Tidak perlu: “Namaku ini, sekolahku di sini, ini foto raporku lengkap, ini kondisi keluargaku.”

Untuk keputusan pendidikan, literasi AI juga berarti tahu kapan informasi pribadi tidak perlu diberikan.

AI juga bisa bias karena cerita kita sendiri

Ada eksperimen sederhana yang bisa dilakukan remaja.

Hari pertama, tulis:

“Aku suka membantu orang, biologi, dan tantangan akademik. Aku cukup disiplin. Jurusan apa yang cocok?”

Hari kedua, tulis:

“Aku suka menulis, diskusi, memahami manusia, dan membuat proyek kreatif. Jurusan apa yang cocok?”

Orang yang sama bisa menerima dua peta jurusan yang sangat berbeda.

Bukan berarti AI “berbohong”. Sistem merespons konteks yang diberikan.

Ini mengajarkan satu pelajaran penting: rekomendasi sangat dipengaruhi framing.

Kalau seorang anak sedang terobsesi satu jurusan, prompt-nya bisa tanpa sadar diarahkan untuk mengonfirmasi pilihan tersebut. Kalau sedang takut matematika karena satu nilai buruk, ia mungkin menggambarkan dirinya seolah seluruh kemampuannya ditentukan oleh kejadian itu.

Karena itu, gunakan AI untuk menantang asumsi juga.

“Apa alasan masuk jurusan ini yang terdengar bagus tetapi sebenarnya lemah?”

“Apa yang mungkin aku abaikan karena terlalu fokus pada prospek kerja?”

“Berikan argumen kuat mengapa pilihan pertamaku mungkin bukan pilihan terbaik.”

“Jangan setujui aku otomatis. Cari blind spot.”

Ini bukan meminta AI menjadi konselor. Ini memakai AI sebagai sparring partner untuk berpikir.

Prospek kerja bukan ramalan pribadi

Salah satu jebakan terbesar adalah bertanya, “Jurusan mana yang paling aman dari AI?” atau “Jurusan mana yang gajinya paling tinggi lima tahun lagi?”

Pertanyaan itu wajar. Dunia kerja memang berubah.

Tetapi jawaban yang terlalu presisi patut dicurigai.

Perubahan teknologi, ekonomi, regulasi, industri, lokasi, dan jenis pekerjaan berlangsung cepat. Jurusan juga bukan tiket satu arah menuju satu profesi. Banyak lulusan bekerja di bidang yang tidak identik dengan nama program studinya.

Lebih sehat jika remaja membahas kombinasi:

Apa fondasi yang dipelajari?

Skill apa yang dapat dipindahkan ke berbagai konteks?

Apakah program itu melatih kemampuan membaca, menulis, berhitung, meriset, berkomunikasi, membuat keputusan, bekerja dengan orang lain, dan menggunakan teknologi secara kritis?

Apakah anak memang sanggup menjalani proses belajarnya?

Karier dibangun bertahun-tahun. Satu chatbot tidak melihat seluruh perjalanan itu.

Gunakan AI untuk membuat “uji realitas”

Ada cara yang lebih produktif daripada meminta satu rekomendasi final.

Pilih tiga jurusan kandidat.

Untuk masing-masing, minta AI membantu membuat daftar:

1. Apa yang perlu diverifikasi di situs resmi.
2. Mata kuliah apa yang perlu dilihat.
3. Tiga orang yang idealnya diajak bicara.
4. Proyek kecil yang bisa dicoba selama satu minggu.
5. Hal yang mungkin disukai.
6. Hal yang mungkin membuat frustrasi.
7. Pertanyaan untuk guru BK atau orang tua.
8. Asumsi yang perlu diuji.

Kemudian lakukan eksperimennya di dunia nyata.

Kalau tertarik psikologi, jangan hanya menonton konten “anak psikologi”. Baca contoh materi pengantar dari sumber pendidikan yang layak, lihat kurikulum kampus, dan bicara dengan mahasiswa.

Kalau tertarik desain, buat proyek desain kecil.

Kalau tertarik informatika, coba aktivitas logika atau pemrograman dasar.

Kalau tertarik komunikasi, kerjakan proyek wawancara atau produksi konten yang punya tujuan jelas.

Pilihan akan terasa lebih nyata ketika anak berinteraksi dengan aktivitasnya, bukan hanya label jurusannya.

Orang tua tidak harus punya jawaban

Bagian tersulit kadang justru terjadi setelah anak berkata, “Aku nggak tahu mau jadi apa.”

Orang tua ingin membantu. Karena cemas, percakapan mudah berubah menjadi daftar saran.

“Ambil ini aja.”

“Yang itu prospeknya bagus.”

“Kamu kan dari kecil begini.”

“Anak teman Mama masuk sana.”

AI bisa memperparah situasi kalau dipakai sebagai stempel pembenaran.

“Nih, AI juga bilang kamu cocoknya ini.”

Lebih berguna jika orang tua menjaga ruang eksplorasi.

“Apa yang bikin kamu penasaran?”

“Dari tiga pilihan itu, mana yang ingin kamu lihat lebih dekat?”

“Ada bagian dari rekomendasi AI yang terasa nggak kamu banget?”

“Informasi apa yang kita belum punya?”

Kalimat terakhir sangat kuat.

Memilih jurusan bukan perlombaan menghasilkan kepastian secepat mungkin. Yang dibutuhkan adalah keputusan yang cukup baik berdasarkan informasi yang cukup baik, lalu kesiapan untuk terus berkembang.

Kembali ke meja makan, anak tadi melihat lagi layar ponselnya.

“Jadi psikologi dicoret?”

Ibunya menggeleng.

“Bukan dicoret.”

“Terus?”

“Diperiksa.”

Ayahnya menambahkan, “Sama dua pilihan lain. Yang pilih tetap kamu.”

Itulah batas yang sehat.

AI boleh membantu remaja menemukan pilihan yang sebelumnya tidak terpikir, menyusun pertanyaan, membandingkan alternatif, dan menguji asumsi.

AI tidak boleh mengambil alih keputusan yang menyangkut identitas, pendidikan, dan kehidupan anak.

Kalau keluarga ingin punya satu aturan sederhana, gunakan ini:

AI boleh memperluas peta.

Manusia tetap memilih jalan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top