Saat Teman Sekelas Anak Sudah Menggunakan AI

Jam istirahat belum selesai ketika percakapan kecil dalam ilustrasi kelas ini mulai panas.

“Aku bikin rangkuman pakai AI semalam.”

“Serius? Cepat dong.”

“Iya. Tinggal masukin topiknya.”

Seorang anak yang dari tadi diam akhirnya berkata, “Aku enggak pernah pakai. Nanti aku ketinggalan enggak?”

Pertanyaan itu tidak benar-benar tentang aplikasi.

Ia tentang posisi sosial.

Teman sudah mencoba sesuatu yang baru. Ada yang terlihat lebih cepat mengerjakan tugas. Ada yang bisa bicara tentang prompt, chatbot, generator gambar, atau fitur yang belum dikenal anak lain. Di usia sekolah, perbedaan kecil seperti itu mudah terasa seperti perlombaan.

Bagi orang tua, respons yang paling berguna bukan panik membeli akses dan bukan juga mengejek, “Ngapain ikut-ikutan.”

Anak perlu dibantu memahami bahwa AI adalah alat, bukan tiket ke kelompok anak pintar.

Mulai dengan rasa anak, bukan dengan debat teknologi

Ketika anak berkata, “Teman-teman sudah pakai AI,” orang tua sering langsung masuk mode ceramah.

“Jangan percaya AI.”

“AI bikin malas.”

“Atau justru kamu harus belajar sekarang.”

Padahal anak mungkin sedang mengatakan hal yang berbeda:

“Aku takut kelihatan enggak ngerti.”

“Aku takut tugas mereka lebih bagus.”

“Aku takut mereka bisa sesuatu yang aku belum bisa.”

Coba jawab dulu:

“Kamu pengin pakai karena penasaran, karena tugas, atau karena takut tertinggal?”

Anak mungkin berpikir sebentar.

“Kayaknya karena mereka ngomongin itu terus.”

Nah, sekarang orang tua tahu masalahnya bukan langsung “izin aplikasi”. Masalahnya adalah peer pressure dan rasa kompeten.

Validasi rasa penasarannya tanpa otomatis memberi semua akses.

“Wajar kalau kamu penasaran. Kita bisa belajar AI bareng dengan cara yang sesuai usia dan aturan.”

Kalimat itu menghindari dua ekstrem: teknologi sebagai monster dan teknologi sebagai kewajiban sosial.

Teman memakai AI belum tentu dengan cara yang sama

Dua anak bisa berkata “aku pakai AI” tetapi maksudnya sangat berbeda.

Yang satu meminta penjelasan soal pecahan.

Yang satu meminta AI membuat seluruh jawaban tugas.

Yang satu memakai fitur yang disediakan guru.

Yang satu masuk ke aplikasi umum dengan akun yang dibuat sendiri.

Yang satu hanya melihat orang tuanya mendemonstrasikan chatbot.

Yang satu memakai AI untuk gambar lucu saat akhir pekan.

Karena itu, jangan membangun keputusan keluarga dari satu kalimat, “semua teman sudah pakai”.

Tanyakan lebih konkret:

“Dipakai buat apa?”

“Di sekolah atau di rumah?”

“Gurunya tahu?”

“Pakai akun sendiri atau dibantu orang tua?”

“Yang bikin kamu tertarik bagian apa?”

Pertanyaan ini bukan interogasi terhadap anak lain. Tujuannya memahami konteks.

Kadang setelah dijelaskan, tekanan sosial mengecil sendiri.

“Oh, ternyata dia cuma pakai buat cari ide gambar.”

Itu berbeda dari asumsi, “semua orang sudah belajar pakai chatbot setiap hari kecuali aku.”

Sekolah sekarang punya peran lebih besar

Pada 2026, Indonesia memiliki pedoman lintas kementerian tentang pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial di jalur pendidikan. Arah umumnya bukan menjadikan AI sebagai jalan pintas, tetapi menempatkan teknologi secara human-centered, etis, aman, bijak, bertanggung jawab, memperhatikan privasi, integritas akademik, batas usia, dan kemampuan berpikir kritis.

Pedoman itu juga mendorong komunikasi serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua.

Ini relevan sekali ketika penggunaan AI mulai muncul di antara teman sekelas.

Keluarga tidak perlu membuat aturan sendirian dalam ruang hampa.

Tanyakan kepada wali kelas atau sekolah:

Apakah ada kebijakan penggunaan AI untuk tugas?

Apakah ada alat tertentu yang dipakai dalam pembelajaran?

Apakah siswa boleh memakai AI untuk brainstorming, penerjemahan, rangkuman, atau revisi?

Kapan penggunaan dianggap menggantikan pekerjaan siswa?

Bagaimana sekolah menangani privasi dan akun anak?

Apakah aturan berbeda menurut usia atau jenis tugas?

Kalau sekolah belum punya jawaban lengkap, percakapan itu justru berguna. Teknologi bergerak cepat, dan kebijakan sekolah memang perlu berkembang.

Yang penting, orang tua tidak mengajari anak satu aturan di rumah sementara guru memakai aturan yang sama sekali berbeda tanpa pernah berkomunikasi.

Jangan menyamakan kecepatan dengan kemampuan

AI bisa membuat beberapa bagian pekerjaan jauh lebih cepat.

Rangkuman muncul cepat.

Ide judul keluar cepat.

Contoh soal dibuat cepat.

Teks diperbaiki cepat.

Anak yang melihat temannya bekerja cepat bisa menganggap temannya “lebih maju”.

Di sinilah orang tua perlu memisahkan efisiensi dari pemahaman.

Dalam ilustrasi di rumah, anak berkata:

“Dia bikin presentasi satu malam. Aku dua hari.”

Ayahnya bertanya, “Pas presentasi, dia ngerti semua isinya?”

“Enggak tahu.”

“Nah. Kita enggak perlu meremehkan caranya. Tapi cepat bukan satu-satunya ukuran.”

Anak perlu tahu bahwa kemampuan menjelaskan kembali, memeriksa fakta, memilih sumber, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil lebih penting daripada sekadar menyelesaikan tugas tercepat.

AI literacy bukan lomba siapa paling banyak memakai AI.

Justru anak yang tahu kapan tidak perlu memakai AI sedang menunjukkan penilaian yang matang.

Ada juga masalah kesenjangan yang jangan diabaikan

Tidak semua keluarga punya perangkat yang sama.

Tidak semua rumah punya koneksi stabil.

Tidak semua orang tua punya waktu atau pengalaman yang sama untuk mendampingi.

Tidak semua anak memenuhi batas usia layanan yang sedang populer.

Tidak semua sekolah punya infrastruktur atau kebijakan yang sama.

UNICEF pada 2026 menekankan bahwa penggunaan AI pada anak tidak merata dan kesenjangan akses dapat memengaruhi kesempatan belajar. Dalam studi lintas negara yang mereka rangkum, pola penggunaan juga berbeda menurut usia dan konteks. Temuan itu tidak boleh langsung dianggap menggambarkan semua anak Indonesia, tetapi pesannya penting: akses AI bukan kondisi yang seragam.

Karena itu, guru dan orang tua sebaiknya hati-hati jika tugas sekolah diam-diam mengasumsikan semua anak punya akses AI yang setara.

Anak yang tidak memakai AI tidak boleh otomatis diposisikan sebagai kurang modern.

Anak yang memakai AI juga tidak boleh otomatis dicurigai curang.

Yang perlu dinilai adalah cara penggunaan, tujuan, aturan, dan hasil belajar.

Bantu anak membangun “bahasa” untuk situasi sosial

Kadang anak tidak membutuhkan teori. Ia butuh kalimat untuk menjawab teman.

“Lho, kamu belum pakai AI?”

Anak bisa menjawab:

“Belum buat yang itu. Di rumah aku pakainya bareng orang tua.”

Atau:

“Gurunya belum bilang boleh buat tugas ini.”

Atau:

“Aku mau coba nanti, tapi bukan buat ngerjain semuanya.”

Atau cukup:

“Belum. Memangnya kamu pakai buat apa?”

Kalimat terakhir paling menarik karena mengubah tekanan menjadi rasa ingin tahu.

Anak tidak defensif dan tidak ikut-ikutan. Ia mengumpulkan informasi.

Itulah kebiasaan digital yang bagus.

Kalau anak ingin mencoba, buat eksperimen kecil

Daripada langsung membuat akun pribadi atau membiarkan akses bebas, keluarga bisa membuat sesi uji coba yang terarah sesuai batas usia layanan.

Pilih satu topik yang anak pahami cukup baik.

Misalnya daur air.

Minta anak menjelaskan dulu dengan versinya sendiri.

Lalu orang dewasa menggunakan AI untuk meminta penjelasan alternatif.

Bandingkan.

“Bagian mana yang sama?”

“Bagian mana yang berbeda?”

“Ada yang terdengar aneh?”

“Bisa kita cek di buku?”

Kemudian coba satu penggunaan kreatif.

“Minta AI bikin tiga pertanyaan kuis, tapi kamu yang nilai pertanyaannya bagus atau enggak.”

Dalam satu sesi pendek, anak sudah belajar lebih banyak tentang AI daripada sekadar mendapatkan akun.

Ia melihat kemampuan, keterbatasan, dan perlunya evaluasi.

Kalau anak ternyata tidak tertarik, juga tidak masalah.

AI literacy tidak harus berarti anak menyukai AI.

Sama seperti literasi media tidak mengharuskan anak suka semua media.

Yang penting ia mampu memahami dan mengambil keputusan ketika berhadapan dengannya.

Kalau satu kelas mulai memakai AI, guru tidak bisa dibiarkan sendirian

Orang tua kadang menganggap isu AI di kelas sepenuhnya urusan guru. Guru sebaliknya bisa mengira keluarga sudah mengatur penggunaan di rumah. Akhirnya anak menerima pesan yang tidak sinkron.

Di rumah ia boleh meminta AI merangkum bab. Di sekolah ternyata rangkuman adalah bagian yang sedang dinilai. Atau sebaliknya, guru memperbolehkan AI untuk mencari ide tetapi orang tua melarang semua penggunaan karena mengira pasti curang.

Percakapan singkat antara sekolah dan keluarga dapat mengurangi banyak kebingungan.

Tidak harus ada seminar besar. Wali kelas bisa menjelaskan contoh nyata: untuk tugas A boleh brainstorming tetapi hasil akhir ditulis sendiri, untuk tugas B tidak boleh AI karena guru sedang menilai kemampuan dasar, untuk kegiatan C AI dipakai bersama di kelas.

Orang tua kemudian mengulang bahasa yang sama di rumah.

Anak jadi tahu bahwa aturan mengikuti tujuan belajar, bukan selera siapa yang sedang memegang perangkat.

Ini juga mencegah kompetisi yang tidak sehat. Jika beberapa anak punya akses berbayar dan yang lain tidak, sekolah perlu memastikan penilaian tidak diam-diam memberi keuntungan pada siapa yang memiliki alat paling kuat. Jika AI memang bagian dari pembelajaran, akses dan metode perlu dipikirkan secara adil.

Bagi anak, pesan yang ingin dibawa sederhana:

“Kamu tidak harus menyamai alat yang dipakai teman. Kamu perlu memahami tujuan tugas dan memakai bantuan yang memang diperbolehkan.”

Dengan begitu, percakapan kelas bisa bergeser dari “siapa punya AI paling keren?” menjadi “kita memakai alat ini untuk belajar apa?”

Itu perubahan kecil, tetapi penting. Teknologi kembali menjadi sarana pendidikan, bukan simbol status di antara anak.

Jangan menjadikan larangan sebagai rahasia

Jika keluarga memutuskan belum mengizinkan suatu layanan, jelaskan alasannya.

Bukan:

“Pokoknya enggak boleh.”

Lebih baik:

“Aplikasi itu batas usianya belum cocok buat kamu.”

atau

“Kita belum nyaman dengan cara aplikasinya menyimpan data.”

atau

“Untuk tugas ini, sekolah minta dikerjakan tanpa AI.”

atau

“Kita boleh coba lewat akun dan pendampingan orang dewasa, tapi belum untuk dipakai sendiri.”

Alasan yang jelas membuat aturan terasa seperti keputusan yang bisa dipahami, bukan kekuasaan misterius orang tua.

Ini juga menyiapkan anak untuk masa depan. Ketika usianya bertambah dan aturan berubah, keluarga bisa mengevaluasi lagi.

Yang sedang dibangun bukan larangan permanen. Yang sedang dibangun adalah kemampuan mengambil keputusan.

Kembali ke meja kelas

Anak yang tadi bertanya apakah ia akan tertinggal akhirnya pulang membawa rasa penasaran, bukan kepanikan.

Di rumah ia berkata, “Besok aku mau tanya Bu Guru, AI boleh dipakai buat latihan presentasi enggak.”

Ibunya menjawab, “Bagus. Kalau boleh, kita coba bareng.”

“Kalau enggak boleh?”

“Ya kita latihan tanpa AI.”

“Berarti aku enggak ketinggalan?”

“Yang bikin kamu maju bukan karena punya aplikasi yang sama dengan teman. Yang bikin kamu maju itu ngerti kapan alatnya membantu dan kapan kamu harus mikir sendiri.”

Itu mungkin tidak terdengar sekeren trik prompt terbaru.

Tetapi untuk anak yang tumbuh di kelas tempat penggunaan AI akan makin sering dibicarakan, kemampuan tersebut jauh lebih tahan lama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top