Di sebuah kelas, guru meminta murid mencoba aplikasi belajar baru.
“Masuk pakai akun sekolah.”
Anak-anak membuka laptop.
Nama.
Email.
Kelas.
Jawaban latihan.
Waktu mengerjakan.
Kesalahan.
Pilihan materi.
Semua mulai masuk ke sistem.
Seorang murid bertanya:
“Bu, aplikasi ini tahu aku jelek di matematika dari mana?”
Guru menjawab, “Dari jawaban kamu tadi.”
“Terus dia ingat?”
Pertanyaan itu mengubah suasana.
Karena di dunia digital, banyak layanan bekerja dengan data.
Data membantu sistem mengingat preferensi, menyesuaikan pengalaman, mendeteksi pola, memberi rekomendasi, mengukur performa, meningkatkan layanan, dan pada sebagian sistem dapat menjadi input untuk pengembangan model atau analitik.
Itulah mengapa kita sering mendengar ungkapan “data adalah bahan bakar”.
Namun untuk anak, metafora itu perlu diberi batas.
Anak bukan bahan bakar.
Masa kecil bukan tambang data.
Data anak bukan sumber daya yang boleh diambil sebanyak mungkin hanya karena secara teknis bisa.
Sistem memang membutuhkan data untuk berfungsi.
Pertanyaannya adalah:
data yang mana, untuk tujuan apa, sebanyak apa, berapa lama, dan siapa yang mendapat manfaat?
Tidak semua data dipakai untuk melatih AI
Ini penting supaya orang tua tidak salah memahami.
Ketika anak menggunakan aplikasi AI, tidak otomatis setiap prompt masuk menjadi training data.
Praktik tiap perusahaan berbeda.
Sebagian layanan dapat menggunakan interaksi tertentu untuk peningkatan produk atau model sesuai kebijakan dan setting.
Sebagian menyediakan pilihan opt-out.
Sebagian produk bisnis atau pendidikan memiliki ketentuan berbeda.
Sebagian data hanya digunakan untuk menjalankan fungsi layanan.
Jadi jangan menyederhanakan menjadi:
“Semua yang kamu ketik pasti dipakai melatih AI.”
Itu tidak akurat.
Yang benar:
keluarga perlu memeriksa kebijakan layanan yang benar-benar digunakan.
Data bisa punya banyak fungsi.
Login.
Keamanan.
Personalisasi.
Riwayat.
Moderasi.
Analitik.
Support.
Pengembangan.
Pelatihan model.
Iklan.
Masing-masing perlu konteks.
Data kecil bisa membentuk gambaran besar
Seorang anak tidak perlu mengisi formulir panjang untuk menghasilkan jejak digital yang kaya.
Bayangkan satu aplikasi belajar merekam:
waktu anak login,
berapa lama mengerjakan,
soal mana yang salah,
topik mana yang sering diulang,
level yang dipilih,
bahasa yang digunakan,
dan perangkat yang dipakai.
Dalam satu hari, datanya terlihat biasa.
Dalam enam bulan, pola bisa muncul.
Sistem mungkin dapat mengestimasi kemampuan, preferensi, atau kebiasaan.
Di sinilah orang tua perlu memahami perbedaan antara data yang diberikan langsung dan data yang diinferensikan.
Anak mungkin tidak pernah menulis:
“Aku kesulitan pecahan.”
Tetapi sistem bisa melihat pola kesalahan.
Anak tidak pernah menulis:
“Aku aktif malam.”
Tetapi log waktu bisa menunjukkannya.
Data bukan hanya apa yang kita isi.
Data juga bisa berasal dari perilaku.
Karena itu pemrofilan anak menjadi isu penting.
Dalam PP 17/2025, Indonesia melarang pemrofilan anak bagi penyelenggara sistem elektronik dalam cakupan aturan tersebut.
Larangan ini menunjukkan bahwa profil digital anak bukan perkara kecil.
Data perkembangan bisa memengaruhi cara sistem melihat anak
Di dunia pendidikan, label bisa sangat kuat.
“Cepat.”
“Lambat.”
“Berbakat.”
“Kurang fokus.”
“Berisiko.”
Kalau sistem digital mulai mengelompokkan anak berdasarkan data, kita perlu bertanya:
seberapa akurat kategorinya?
Apakah konteks dipahami?
Apakah anak bisa berubah?
Apakah guru terlalu percaya skor mesin?
Apakah satu periode buruk menjadi label permanen?
Anak berkembang cepat.
Kemampuan kelas lima bukan prediksi final masa depan.
Siswa yang kesulitan membaca tahun ini bisa berkembang pesat tahun depan.
Data historis berguna untuk membantu.
Tetapi kalau diperlakukan sebagai identitas, ia bisa membatasi.
Itulah mengapa keputusan penting tentang anak tidak sebaiknya diserahkan kepada skor otomatis tanpa manusia yang memahami konteks.
UNICEF juga menekankan bahwa AI tidak seharusnya menjadi satu-satunya input untuk keputusan besar yang berdampak pada anak.
Manusia tetap perlu berada dalam proses.
Data anak lebih sensitif karena masa depannya panjang
Kalau orang dewasa membuat akun pada usia 40 tahun, dampak data mungkin berlangsung bertahun-tahun.
Kalau anak mulai menghasilkan jejak digital pada usia 7 tahun, horizon waktunya jauh lebih panjang.
Data yang dikumpulkan hari ini berpotensi hidup lebih lama daripada aplikasi yang mengumpulkannya.
Perusahaan bisa berubah.
Produk tutup.
Sistem berganti.
Vendor berpindah.
Kebijakan diperbarui.
Itulah sebabnya data minim penting untuk anak.
Bukan karena semua perusahaan berniat buruk.
Tetapi karena tidak ada orang tua yang bisa memprediksi seluruh perjalanan data selama puluhan tahun.
Cara paling aman mengurangi ketidakpastian adalah tidak memberikan data yang tidak diperlukan.
Sekolah tidak perlu mengumpulkan karena “mungkin berguna”
Dalam proyek kelas, seorang guru menemukan tool yang meminta tanggal lahir lengkap.
“Kenapa perlu?”
Tidak jelas.
Kalau fitur hanya membuat flashcard, pertanyaan itu patut diajukan.
Prinsip data minimization sangat relevan.
Kumpulkan yang perlu.
Bukan semua yang bisa.
Kalau usia bisa diverifikasi dengan rentang, apakah perlu tanggal lahir penuh?
Kalau tugas bisa dinilai tanpa alamat rumah, jangan minta alamat.
Kalau laporan kelas tidak perlu nama lengkap, apakah bisa memakai identifier lain?
Setiap data tambahan menambah tanggung jawab.
Semakin banyak yang dikumpulkan, semakin banyak yang harus dilindungi.
Sekolah perlu mengingat bahwa kemudahan dashboard bukan alasan cukup untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.
Personalisasi bukan selalu gratis
Anak sering suka personalisasi.
Aplikasi tahu level.
Ingat karakter favorit.
Memberikan soal sesuai kemampuan.
Menyarankan materi.
Semua terasa nyaman.
Tetapi personalisasi membutuhkan informasi.
Pertanyaan yang sehat:
berapa banyak informasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan manfaat itu?
Misalnya sistem bisa menyesuaikan soal berdasarkan hasil tiga latihan terakhir.
Apakah perlu mengetahui lokasi anak?
Tidak.
Apakah perlu akses kontak?
Kemungkinan besar tidak.
Apakah perlu mikrofon sepanjang waktu?
Belum tentu.
Hubungkan data dengan fungsi.
Kalau tidak ada hubungan yang masuk akal, berhenti dan cek.
Anak bisa dilatih melakukan ini.
“Aplikasi ini minta lokasi.”
“Buat apa?”
“Katanya supaya pengalaman lebih baik.”
“Pengalaman belajar pecahan butuh lokasi rumah?”
Anak tertawa.
“Kayaknya nggak.”
Pertanyaan logis sering cukup kuat.
Bukan hanya perusahaan teknologi yang harus bertanggung jawab
Dalam percakapan soal data, orang tua kadang membayangkan satu pihak:
perusahaan.
Padahal ekosistem lebih luas.
Sekolah memilih platform.
Guru memilih tool.
Orang tua memberi izin.
Anak mengunggah.
Vendor memproses.
Penyedia cloud menyimpan.
Model pihak ketiga mungkin digunakan.
Semua punya peran berbeda.
Itulah mengapa “siapa yang bertanggung jawab?” tidak selalu punya jawaban satu kata.
Namun aturan yang baik harus membuat tanggung jawab terlihat.
Siapa pengendali?
Siapa yang memproses?
Siapa yang bisa dihubungi?
Siapa yang menghapus?
Siapa yang menjelaskan kepada orang tua?
Di Indonesia, PP 17/2025 bahkan mewajibkan penyelenggara yang tercakup untuk menentukan dengan tegas pihak yang bertanggung jawab atas pemrosesan data pribadi anak pada konteks tertentu dan memastikan pihak yang bekerja sama memenuhi ketentuan pelindungan anak.
Pesannya jelas:
rantai vendor tidak boleh menjadi alasan untuk mengaburkan tanggung jawab.
Data anak jangan ditukar dengan fitur yang tidak perlu
Bayangkan tool gratis menawarkan avatar AI.
Anak cukup upload selfie.
Lalu diminta:
nama,
tanggal lahir,
lokasi,
kontak,
akses galeri,
dan mikrofon.
Orang tua perlu berhenti.
Manfaatnya apa?
Risikonya apa?
Apakah semua izin diperlukan?
Kita sering membayar layanan digital bukan dengan uang, melainkan dengan data, perhatian, atau kebiasaan penggunaan.
Itu tidak otomatis buruk.
Tetapi anak perlu belajar bahwa “gratis” bukan berarti tanpa pertukaran.
Tanya:
“Apa yang aplikasi dapat dari kita?”
Pertanyaan itu melatih ekonomi digital sederhana.
Produk mendapatkan pengguna.
Data.
Engagement.
Langganan masa depan.
Reputasi.
Atau nilai lain.
Anak tidak perlu curiga pada semuanya.
Mereka perlu sadar ada model bisnis.
Data untuk keamanan juga tetap perlu batas
Ada situasi ketika pengumpulan data memang membantu melindungi anak.
Verifikasi usia.
Deteksi penipuan.
Moderasi.
Pelaporan.
Keamanan akun.
Tidak tepat jika semua data dianggap jahat.
Masalahnya bukan “data atau tidak data”.
Masalahnya proporsionalitas.
Apakah data benar-benar diperlukan?
Apakah digunakan sesuai tujuan?
Apakah disimpan terlalu lama?
Apakah terlindungi?
Apakah anak diberi informasi yang sesuai usia?
Apakah orang tua tahu?
Apakah ada kontrol?
Dengan cara ini, keluarga bisa keluar dari debat ekstrem.
Tidak perlu memilih antara “semua data aman” dan “jangan pernah memakai aplikasi”.
Yang dibutuhkan adalah tata kelola.
Hapus identitas dari tugas bila tidak perlu
Satu langkah praktis yang sangat sederhana:
bersihkan file sebelum upload.
Anak hendak meminta AI membantu merangkum tugas.
Di header ada:
nama lengkap,
nomor siswa,
kelas,
nama sekolah.
AI tidak membutuhkan semuanya untuk membuat ringkasan.
Hapus.
Kalau ada komentar guru yang bersifat pribadi dan tidak relevan, pertimbangkan hapus.
Kalau ada nama teman dalam proyek, anonimisasi jika bisa.
Data minim dimulai dari pengguna.
Perusahaan punya tanggung jawab desain.
Sekolah punya tanggung jawab kebijakan.
Keluarga juga punya tanggung jawab kebiasaan.
Anak harus mendapat manfaat dari datanya, bukan hanya sistem
Ini pertanyaan yang jarang muncul.
Jika data anak dipakai untuk membuat sistem lebih pintar, siapa yang memperoleh manfaat?
Anaknya?
Sekolahnya?
Perusahaan?
Masyarakat?
Jawaban bisa kombinasi.
Tetapi kepentingan anak tidak boleh hilang.
Prinsip best interest of the child menuntut kita melihat manfaat dan risiko dari perspektif anak, bukan hanya efisiensi bisnis.
Misalnya sistem belajar adaptif menghasilkan data sangat rinci.
Kalau manfaatnya nyata bagi anak dan perlindungannya kuat, penggunaan mungkin masuk akal.
Kalau data sangat banyak tetapi manfaat ke anak kecil dan tujuan komersial dominan, pertanyaannya berbeda.
Dalam PP 17/2025, penyelenggara yang tercakup diwajibkan memprioritaskan pemenuhan hak dan pelindungan anak dibanding kepentingan komersial.
Ini standar penting.
Anak bukan pasar yang lebih kecil.
Anak adalah pengguna dengan hak khusus.
Ajari anak satu kalimat
Di akhir pelajaran, guru bisa memberi satu aturan.
“Kalau sistem tidak butuh data itu untuk membantu kamu, jangan kasih.”
Anak mencatat.
Satu murid bertanya:
“Kalau aku nggak tahu butuh atau nggak?”
“Tanya.”
Itulah intinya.
Data akan tetap menjadi bagian dari sistem digital.
AI juga akan semakin terhubung dengan data.
Tujuan kita bukan membuat anak hidup tanpa jejak digital.
Hampir mustahil.
Tujuannya membuat jejak itu lebih terkontrol, lebih proporsional, dan lebih menghormati hak mereka.
Karena ketika orang berkata data adalah bahan bakar, keluarga perlu mengingat satu hal:
anak bukan mesin.
Pertumbuhan mereka tidak boleh dikorbankan hanya supaya sistem punya lebih banyak data.
