Best Interest of the Child Harus Masuk Pembicaraan tentang AI

KAKATU.WEB.ID KNOWLEDGE SYSTEM
FormatPost
Diperbarui8 September 2026
Waktu baca8 menit
KonteksPanduan praktis

Rapat sekolah berlangsung hampir dua jam.

Agenda terakhir: apakah sekolah akan memakai sistem AI baru untuk membantu memantau tugas, memberi rekomendasi latihan, dan menganalisis performa murid.

Vendor sudah presentasi.

Dashboard terlihat rapi.

Guru tertarik.

Bagian administrasi melihat potensi efisiensi.

Orang tua bertanya tentang biaya.

Lalu seorang guru BK mengangkat tangan.

“Kalau semua fitur ini dipakai, apa yang paling baik buat anak?”

Ruangan hening sebentar.

Pertanyaannya terdengar sederhana.

Tetapi sebenarnya ia membawa salah satu prinsip paling penting dalam hak anak:

best interest of the child, atau kepentingan terbaik bagi anak.

Di era AI, prinsip ini tidak boleh hanya muncul ketika ada masalah.

Ia harus masuk sejak awal desain, pembelian, penggunaan, dan evaluasi teknologi.

Bukan sekadar bertanya “AI bisa melakukan apa?”

Tetapi:

“Kalau teknologi ini dipakai, apakah kehidupan anak menjadi lebih baik?”

Efisien untuk orang dewasa belum tentu terbaik untuk anak

Bayangkan sekolah memakai AI untuk menilai tugas lebih cepat.

Guru hemat waktu.

Bagus.

Tetapi apakah feedback-nya membantu siswa belajar?

Apakah siswa bisa membantah jika sistem salah?

Apakah guru membaca kasus yang kompleks?

Apakah bahasa dan konteks lokal dipahami?

Apakah data murid dipakai secara proporsional?

Jika jawabannya tidak jelas, efisiensi saja tidak cukup.

Kepentingan terbaik anak meminta kita melihat teknologi dari sisi dampak anak.

Bukan hanya dari sisi operasional.

Hal yang sama berlaku di rumah.

Orang tua memakai parental control AI karena praktis.

Tetapi apakah anak tahu apa yang dipantau?

Apakah kontrolnya sesuai usia?

Apakah privasinya terlalu sedikit?

Apakah ada ruang agar anak belajar bertanggung jawab?

Kontrol yang sangat ketat mungkin membuat orang tua merasa aman.

Tetapi jika anak tidak pernah belajar mengambil keputusan sendiri, apakah itu benar-benar terbaik dalam jangka panjang?

Best interest bukan “selalu melindungi dari semua risiko”

Ini salah satu kesalahpahaman.

Kepentingan terbaik anak bukan berarti membuat dunia steril.

Anak perlu mencoba.

Salah.

Belajar.

Berinteraksi.

Mengembangkan kemandirian.

Teknologi juga dapat memberi manfaat.

AI bisa membantu akses belajar, personalisasi, kreativitas, penerjemahan, aksesibilitas, dan eksplorasi.

Melarang semuanya belum tentu terbaik.

Sebaliknya, memberi akses bebas juga belum tentu terbaik.

Kita perlu menimbang.

Manfaat.

Risiko.

Usia.

Kematangan.

Konteks.

Alternatif.

Suara anak.

Dampak jangka pendek.

Dampak jangka panjang.

Itulah mengapa best interest bukan tombol.

Ia adalah proses penilaian.

Indonesia sudah memasukkannya ke aturan sistem elektronik anak

Per Agustus 2026, PP 17/2025 yang berlaku di Indonesia secara eksplisit menyatakan bahwa penyelenggara sistem elektronik yang tercakup harus mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak dalam mengembangkan atau menyelenggarakan produk, layanan, dan fitur yang ditujukan atau mungkin diakses anak.

Aturan itu juga menyatakan pemenuhan hak dan pelindungan anak harus diprioritaskan dibanding kepentingan komersial penyelenggara.

Kalimat ini penting.

Karena teknologi digital sering punya insentif lain:

engagement.

Pertumbuhan pengguna.

Data.

Langganan.

Iklan.

Waktu penggunaan.

Best interest meminta kita bertanya apakah desain yang meningkatkan bisnis juga meningkatkan kesejahteraan anak.

Kalau tidak, kepentingan siapa yang sedang didahulukan?

Lebih lama di aplikasi belum tentu lebih baik

Misalnya sebuah AI learning app memberi streak.

Anak harus login setiap hari.

Ada badge.

Notifikasi.

Poin.

Leaderboard.

Semua membuat engagement naik.

Mungkin juga memotivasi.

Tetapi best interest meminta pemeriksaan lain.

Apakah anak mulai merasa cemas jika streak putus?

Apakah ia belajar karena ingin memahami atau hanya menjaga angka?

Apakah notifikasi datang saat waktu istirahat?

Apakah desain mendorong penggunaan berlebihan?

PP 17/2025 sendiri memasukkan adiksi serta gangguan psikologis dan fisiologis sebagai aspek risiko yang perlu dinilai untuk produk, layanan, dan fitur yang diakses anak.

Itu menunjukkan bahwa safety lebih luas daripada konten.

Desain perilaku juga penting.

Bagi orang tua, pertanyaannya sederhana:

“Apakah fitur ini membantu anak belajar, atau membuat anak sulit berhenti?”

Dua hal itu bisa terlihat mirip dari angka engagement.

Dari perspektif anak, sangat berbeda.

Suara anak harus ikut masuk

Salah satu cara terbaik memahami best interest adalah bertanya kepada anak.

Bukan berarti semua keputusan mengikuti keinginan anak.

Tetapi pengalaman mereka adalah data penting.

Sekolah mencoba AI tutor selama dua minggu.

Guru berkata:

“Anak-anak aktif.”

Dashboard berkata:

“Usage naik.”

Vendor berkata:

“Adoption bagus.”

Lalu siswa ditanya.

Satu menjawab:

“Aku suka karena bisa nanya berkali-kali tanpa malu.”

Siswa lain:

“Aku bingung kalau dia jawab panjang.”

Yang lain:

“Aku jadi langsung tanya AI sebelum mikir.”

Insight terakhir mungkin tidak terlihat di dashboard.

Suara anak menunjukkan kualitas pengalaman.

UNICEF menekankan pentingnya meaningful engagement dengan anak untuk memahami apa yang bekerja, apa yang rusak, dan apa yang perlu diperbaiki.

Best interest tanpa mendengar anak berisiko menjadi orang dewasa menebak apa yang terbaik.

Anak punya perspektif yang tidak kita miliki.

Tetapi keinginan anak bukan satu-satunya pertimbangan

“Kalau ditanya anak, mereka pasti maunya bebas.”

Belum tentu.

Dan kalau pun mereka ingin bebas, orang dewasa tetap punya tanggung jawab.

Best interest tidak sama dengan preference.

Seorang anak mungkin ingin bermain game sampai jam dua pagi.

Keinginannya jelas.

Kepentingan terbaiknya belum tentu sama.

Dalam AI juga begitu.

Anak ingin chatbot companion terus aktif.

Orang tua perlu mempertimbangkan kualitas hubungan, waktu penggunaan, privasi, risiko emosional, dan apakah anak mulai menggantikan dukungan manusia.

Anak ingin memakai generator gambar tanpa batas.

Sekolah perlu mempertimbangkan hak cipta, deepfake, bullying, dan konteks tugas.

Suara anak masuk.

Tetapi keputusan menggunakan lebih banyak faktor.

Lihat manfaat untuk anak yang spesifik, bukan “anak” secara abstrak

Anak bukan satu kelompok seragam.

Produk yang membantu satu anak bisa menyulitkan yang lain.

AI transcription bisa sangat membantu siswa dengan kebutuhan aksesibilitas tertentu.

Tetapi tool yang sama mungkin membuat siswa lain terlalu bergantung.

Fitur voice bisa membantu anak yang kesulitan mengetik.

Tetapi pengumpulan suara menambah isu data.

Personalisasi dapat membantu anak yang membutuhkan latihan bertahap.

Tetapi sistem yang terlalu cepat memberi label bisa membatasi ekspektasi.

Best interest perlu konteks individu dan kelompok.

Usia.

Bahasa.

Disabilitas.

Akses internet.

Kondisi keluarga.

Kurikulum.

Budaya.

Ketersediaan guru.

Semua bisa mengubah penilaian.

Itulah sebabnya kebijakan “satu tool untuk semua” perlu hati-hati.

Pertimbangkan anak yang paling rentan

Ketika sekolah memilih sistem, sering fokus pada mayoritas.

Namun best interest juga meminta melihat kelompok yang bisa dirugikan.

Apakah siswa tanpa perangkat pribadi tertinggal?

Apakah sistem bekerja baik dalam bahasa Indonesia?

Bagaimana dengan anak yang menggunakan bahasa daerah di rumah?

Apakah fitur accessibility tersedia?

Apakah model menunjukkan bias terhadap gaya bahasa tertentu?

Apakah anak dengan kebutuhan khusus akan mendapatkan pengalaman yang adil?

Apakah orang tua yang kurang paham teknologi mendapat penjelasan?

Teknologi yang terlihat sukses secara rata-rata bisa tetap gagal pada kelompok tertentu.

Karena itu fairness harus masuk.

UNICEF menempatkan non-discrimination dan inclusion sebagai bagian dari child-centred AI.

Bukan tambahan.

Fondasi.

Jangan biarkan AI menjadi satu-satunya penentu keputusan besar

Bayangkan sistem memberi skor:

“Risiko akademik tinggi.”

Apa yang terjadi berikutnya?

Kalau guru otomatis memindahkan anak ke program tertentu tanpa review, kita punya masalah.

Data bisa membantu.

Model bisa memberi sinyal.

Tetapi keputusan yang berdampak besar harus mempertimbangkan konteks manusia.

Anak mungkin sakit minggu itu.

Ada masalah keluarga.

Bahasa pengantar bukan bahasa utamanya.

Sistem bisa salah.

Dataset bisa bias.

Variabel penting mungkin tidak masuk.

UNICEF secara jelas menyarankan AI tidak digunakan sebagai satu-satunya input untuk keputusan kunci yang berdampak pada anak tanpa manusia dalam proses final.

Untuk sekolah, prinsipnya praktis:

AI boleh memberi rekomendasi.

Manusia tetap bertanggung jawab.

Best interest juga berarti punya exit button

Kalau tool ternyata tidak membantu, sekolah harus bisa berhenti.

Ini terdengar administratif.

Sebenarnya sangat penting.

Apakah data bisa dihapus?

Apakah siswa bisa kembali ke metode sebelumnya?

Apakah guru terlalu tergantung pada platform?

Apakah materi bisa dipindahkan?

Apakah keputusan pembelian membuat sekolah terkunci?

Best interest menuntut fleksibilitas.

Kita tidak boleh mempertahankan teknologi hanya karena sudah membeli lisensi.

Kalau manfaat ke anak tidak terbukti atau risiko lebih besar, sistem perlu diubah atau dihentikan.

Tidak ada gengsi.

Teknologi harus melayani pendidikan.

Bukan pendidikan melayani vendor.

Gunakan lima pertanyaan sebelum mengadopsi

Sekolah dan keluarga bisa menyederhanakan prinsip best interest menjadi lima pertanyaan.

Pertama:

Manfaat nyata apa yang diterima anak?

Bukan guru.

Bukan vendor.

Anak.

Kedua:

Risiko apa yang muncul, termasuk privasi, bias, ketergantungan, manipulasi, dan dampak psikologis?

Ketiga:

Apakah ada cara mencapai manfaat yang sama dengan data lebih sedikit atau risiko lebih rendah?

Keempat:

Apakah anak diberi penjelasan dan kesempatan menyampaikan pengalaman?

Kelima:

Jika sistem gagal, siapa manusia yang bertanggung jawab dan bagaimana anak mendapat pemulihan?

Lima pertanyaan itu tidak menyelesaikan semua masalah.

Tetapi cukup untuk mencegah keputusan yang terlalu terpukau fitur.

Best interest juga berlaku untuk produk yang tidak “khusus anak”

Ini penting.

Banyak anak memakai layanan umum.

Search.

Chatbot.

Video.

Social platform.

Generator gambar.

Aplikasi produktivitas.

Produk mungkin tidak dirancang khusus untuk anak, tetapi bisa diakses anak.

PP 17/2025 bahkan memasukkan produk, layanan, dan fitur yang mungkin digunakan atau diakses anak ke dalam kerangka penilaiannya berdasarkan indikator tertentu.

Itu mengubah cara kita berpikir.

Tanggung jawab tidak hilang hanya karena perusahaan menulis “bukan aplikasi anak” sementara dalam praktiknya anak banyak memakai.

Desain perlu mempertimbangkan realitas pengguna.

Rumah juga perlu mempertimbangkan realitas, bukan asumsi.

Jangan berkata:

“Anak saya nggak main AI.”

Tanya.

Mungkin AI sudah ada di mesin pencari, keyboard, editor foto, platform belajar, atau aplikasi lain yang mereka gunakan.

Best interest dimulai dari memahami kehidupan digital anak yang nyata.

Kembali ke rapat sekolah

Setelah pertanyaan guru BK tadi, rapat tidak langsung memutuskan.

Mereka membuat pilot.

Satu kelas.

Satu bulan.

Data minimal.

Orang tua diberi penjelasan.

Siswa diminta feedback.

Guru tetap memegang keputusan final.

Hasilnya akan dievaluasi.

Mungkin sistem nanti dipakai.

Mungkin tidak.

Yang penting, pertanyaannya berubah.

Bukan:

“Tool ini paling canggih nggak?”

Tetapi:

“Apakah ini benar-benar membantu anak belajar dengan lebih aman, adil, dan manusiawi?”

Best interest of the child terdengar seperti bahasa kebijakan.

Sebenarnya ia bisa menjadi kompas yang sangat praktis.

Setiap kali teknologi baru masuk ke rumah atau sekolah, tanyakan:

“Kalau kita melihat keputusan ini dari kursi anak, apakah pilihan kita masih terasa masuk akal?”

Jika jawabannya belum jelas, keputusan belum selesai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top